INTERNATIONAL OFFICE

Bridge the Borders, Bless the World

INTERNATIONAL ADMISSION

INTERNATIONAL NETWORKING

INTERNATIONAL RESEARCH

Welcome UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Welcome to UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, an institution profoundly dedicated to harmonizing rigorous academic excellence with ethical and spiritual growth. Our university stands as a beacon of integrated learning, where innovative academic programming and meaningful community engagement converge. We strive to cultivate graduates who are not only masters of their respective disciplines but also steadfast practitioners of the noble values of Islam, ensuring they emerge as leaders who lead with both intellect and integrity.

In an era defined by rapid globalization and complex societal shifts, UIN Bukittinggi remains resolute in its vision to emerge as a premier Islamic university distinguished by moral excellence and intellectual distinction. This profile serves as a testament to our institutional achievements and our vibrant academic community. It reflects our unwavering commitment to shaping conscientious scholars who are equipped to contribute effectively to the advancement of the nation and the global community through the seamless integration of knowledge and faith.

INTERNATIONAL ADMISSION

  • S1 – Bachelor’s Degree Programs

    The Undergraduate program is designed to provide students with a solid foundational knowledge in their chosen field of study. At UIN Bukittinggi, we offer various majors across faculties such as Islamic Economics and Business, Education, Sharia, and Ushuluddin.

  • S2 – Master’s Degree Programs

    The Master’s program is designed for students and professionals who wish to gain specialized expertise and leadership skills. UIN Bukittinggi offers advanced degrees in fields such as Islamic Education Management, Islamic Law (Ahwal Al-Syakhshiyyah), Islamic Economics, and Aqidah and Islamic Philosophy. The curriculum emphasizes critical analysis and the integration of Islamic perspectives with contemporary global issues.

  • S3 – Doctoral’s Degree Programs

    The Doctoral program represents the highest level of academic inquiry, focusing on the mastery of research methodologies and the creation of original knowledge. Our prestigious Islamic Studies and Sharia Science doctoral programs invite scholars to engage in profound research that bridges the gap between traditional Islamic heritage and modern scientific advancements.

Who can apply as an international student at UIN Bukittinggi?
Any non-Indonesian citizen who has completed senior high school (for Undergraduate/S1) or a relevant degree (for Master/S2 and Doctoral/S3) is eligible to apply. Applicants must demonstrate academic competence and a commitment to respecting the university’s Islamic and cultural values.
What are the main requirements regarding citizenship and docs?
Applicants must be foreign nationals (WNA) with single citizenship (not holding Indonesian citizenship). They must possess a valid passport and are required to obtain an Indonesian Study Visa (VITAS) and KITAS for their stay.
What are the academic qualifications and language requirements?
Applicants must have a high school diploma (or equivalent) that is officially recognized and legalized. Regarding language, applicants must be proficient in Indonesian or English, evidenced by certificates (TOEFL/IELTS/BIPA) or by passing the university's internal assessment.
How does the selection process work?
The selection consists of three stages: Administrative Screening (document review), Written/Online Examination (core competency assessment), and an Academic Interview to evaluate motivation and potential.
How is the study program funded?
Applicants must provide a financial guarantee for tuition and living expenses, whether through self-funding or scholarships. Specifically, students must commit to paying tuition fees at Category 4 (UKT Grade 4) and cover boarding costs at the university's Ma’had (Dormitory)

Welcome International Office

Welcome to the International Office of UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. As the gateway to our university’s global presence, we are committed to harmonizing our rich Islamic heritage with the demands of modern global education. Our office serves as a strategic hub, dedicated to cultivating graduates who are not only academically proficient but also culturally agile and ethically grounded, ensuring they are prepared to navigate and contribute to an increasingly interconnected world.

In line with our core vision, "Strengthening International Impactful Networking for Global Engagement," we focus on creating meaningful connections that transcend borders. Our primary mission is focused on increasing international partnerships that foster academic exchange, collaborative research, and cross-cultural understanding. By building these strategic alliances, we aim to elevate UIN Bukittinggi’s institutional standing and provide our academic community with transformative global opportunities.

"Bridge the Borders, Bless the World"
Admission
Mobility Programs
Services
News

Service and Mobility Programs

International Student Services

Service

International Mobility Programs

Mobility

Global Partnership and Networking

Service

Academic and Faculty Recognition

Service

Students

Lecturer

Faculty

Major

LATEST NEWS

November 01, 2026

Terima Mahasiswa Kamboja, UIN Bukittinggi Tingkatkan Pembinaan BIPA

Terima Mahasiswa Kamboja, UIN Bukittinggi Tingkatkan Pembinaan BIPA

BUKITTINGGI— Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djambek Bukittinggi terus memperkuat langkah internasionalisasi kampus melalui penerimaan mahasiswa asing.  Setelah berhasil merintis penerimaan mahasiswa asing asal Thailand  UIN Bukittinggi kembali memperluas jangkauan internasionalnya pada tahun 2026 ini dengan resmi menerima enam mahasiswa asing asal Kamboja.

Mahasiswa asing asal Kamboja mengikuti pembinaan intensif BIPA di UPB UIN Bukittinggi.

Keenam mahasiswa internasional tersebut tersebar di lima program studi strategis, yakni Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Teknologi Informatika Komputer (PTIK), Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Pariwisata Syariah, serta Manajemen Bisnis Syariah.

Sebagai fondasi akademik dan komunikasi selama menempuh studi di Indonesia, para mahasiswa asing ini mendapatkan pembinaan intensif program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang dikelola penuh oleh Unit Pengembangan Bahasa (UPB) UIN Bukittinggi.

Kebijakan Nasional PTKIN dan Komitmen UIN Bukittinggi

Langkah UIN Bukittinggi yang konsisten menggaet mahasiswa mancanegara ini sejalan dengan kebijakan nasional Kementerian Agama dalam mendorong internasionalisasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di seluruh Indonesia.

Temu ramah mahasiswa asing asal Kamboja bersama pimpinan UIN Bukittinggi.

Rektor UIN Sjech M. Djambek Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, menegaskan komitmen kampus dalam mengawal kebijakan internasionalisasi ini secara proaktif. Menurutnya, kehadiran mahasiswa asing tidak hanya memperluas jejaring internasional, tetapi juga memperkaya iklim akademik kampus.

"Internasionalisasi PTKIN adalah langkah strategis untuk menempatkan UIN Bukittinggi di peta pendidikan global. Kami tidak hanya membuka pintu bagi mahasiswa asing, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan fasilitasi terbaik, mulai dari integrasi kurikulum hingga pembinaan bahasa dan budaya. Kami berkomitmen menjadikan kampus ini rumah yang ramah dan inklusif bagi pencari ilmu dari berbagai negara," ujar Prof. Silfia Hanani.

 Kesiapan Tim Instruktur dan Masa Belajar Intensif

Guna menunjang keberhasilan program tersebut, UPB UIN Bukittinggi telah menyiapkan tim instruktur BIPA profesional yang telah diikutkan dalam berbagai pelatihan BIPA berskala nasional.

Kepala UPB UIN Bukittinggi, Syahrul, M.Pd., menjelaskan bahwa proses pembinaan bahasa dirancang secara terstruktur dan terukur agar mahasiswa asing dapat segera beradaptasi dengan kegiatan perkuliahan reguler.

"Untuk memastikan pencapaian kompetensi bahasa yang optimal, para mahasiswa asing mengikuti masa belajar intensif BIPA di luar jadwal perkuliahan. Tim instruktur kami yang telah tersertifikasi dan terlatih siap mendampingi mereka, baik dari segi tata bahasa, percakapan akademik, hingga pemahaman konteks budaya lokal," terang Syahrul, M.Pd.

Urgensi Program BIPA

Pembinaan BIPA oleh UPB UIN Bukittinggi memegang peran strategis dalam mendorong internasionalisasi kampus melalui penguatan integrasi akademik, adaptasi sosial-budaya, hingga diplomasi bahasa. Menurut Dr. Afrinaldi, MA., Wakil Rektor urusan Akademik UIN Bukittinggi, selain memastikan mahasiswa asing mampu menyerap materi perkuliahan dan menyusun karya ilmiah secara optimal, program ini menjembatani proses akulturasi mereka dengan masyarakat Minangkabau. Lebih dari itu, BIPA menjadi instrumen diplomasi untuk menyebarluaskan bahasa Indonesia serta nilai-nilai keislaman moderat ke kancah global, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Dr. Afrinaldi, MA.

Dengan kesiapan instruktur, skema belajar yang intensif, serta dukungan penuh dari pimpinan universitas, UIN Bukittinggi optimistis mampu melahirkan lulusan mancanegara yang berdaya saing global sekaligus menjadi duta budaya Indonesia di negara asal mereka. (IRWANDI)

Oktober 26, 2026

UIN Bukittinggi Backs Global Peace Initiative Through Minister of Religious Affairs Diplomacy

UIN Bukittinggi Backs Global Peace Initiative Through Minister of Religious Affairs Diplomacy

ITALY — Indonesia’s Minister of Religious Affairs, Nasaruddin Umar, has reinforced the commitment of Indonesia to active global peacebuilding, asserting the nation's role as a vital mediator in international affairs rather than a passive observer.

Indonesia’s Minister of Religious Affairs, Prof. Nasaruddin Umar,

Attending the Sant’Egidio International Meeting themed "Unarmed and Disarming Peace" in Assisi, Italy, from Oct 25 to 27, Mr Nasaruddin highlighted the shift towards a grounded and substantive form of religious diplomacy, bringing Nusantara’s enduring message of peace to the international stage.

Inside the Atmosphere of the Sant’Egidio International Meeting

Bringing together representatives from more than 55 countries, the international gathering underscored a pivotal message for our time: the world needs to breathe; without dialogue, it is suffocating.

At a time when multiple regions remain fractured by sectarian conflicts and humanitarian crises, Indonesia presents a compelling alternative rooted in humanistic religious discourse. Addressing world leaders and faith representatives, Mr Nasaruddin stressed that interfaith dialogue must transcend normative policy papers to become actionable humanitarian initiatives.

A Three-Pronged Strategic Shift

Indonesia’s soft-power initiative reflects a broader transition toward action-oriented diplomacy across three key dimensions:

Values as Soft Power: Positioning religious ethics as a framework to address both humanitarian emergencies and ecological preservation (eco-theology).

Moral Leadership: Sustaining the momentum of the 2024 Istiqlal Declaration alongside Pope Leo XIV at the Vatican, cementing Indonesia’s standing as a moral bridge-builder between civilisations.

Academic Foundations: Fostering institutional ties with the Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies (PISAI) to anchor peace initiatives in rigorous scholarly research and philological dialogue.

Strong Backing from UIN Bukittinggi

Prof. Dr Silfia Hanani

The diplomatic push has drawn strong praise from Indonesia’s State Islamic Higher Education (PTKIN) sector. Prof. Dr Silfia Hanani, Rector of Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, described the minister's engagements in Assisi and the Vatican as a major milestone for the country's academic community.

"This milestone demonstrates that religious moderation and the values of rahmatan lil 'alamin (blessing for all creation) nurtured on our campuses are far more than abstract concepts," Prof Silfia noted. "They serve as globally respected instruments of international diplomacy."

UIN Bukittinggi hosted the Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR) annual meeting on June 3–4, 2026, aimed at deepening interfaith dialogue and relations.

She reaffirmed that UIN Bukittinggi remains fully committed to supporting this foreign policy direction by expanding international partnerships, advancing interfaith dialogue research, and cultivating scholars equipped to act as global peace ambassadors.

Through a structured and consistent framework of religious diplomacy—buttressed by academic institutions like UIN Bukittinggi—Indonesia continues to safeguard its own pluralistic society while positioning itself as a beacon for enduring global peace. (IRWANDI)

Oktober 22, 2026

UIN Bukittinggi Commemorates Hari Santri: A Moral Anchor and Reaffirmation of Identity

UIN Bukittinggi Commemorates Hari Santri: A Moral Anchor and Reaffirmation of Identity

BUKITTINGGI — Daybreak had barely touched the slope of Mount Marapi when hundreds of academic staff and students from the Sjech M. Djamil Djambek State Islamic University (UIN) in Bukittinggi gathered in silent alignment for morning prayers (Shubuh paryer). The solemn congregation marked the opening of a series of religious and academic events commemorating National Santri Day (Hari Santri) on Thursday (Oct 22). Beyond its spiritual devotion, the gathering underscored a broader mission: strengthening the institution's spiritual foundation while reinforcing its Islamic intellectual identity in an evolving global landscape.

Despite the haze, the Santri Day ceremony at UIN Bukittinggi on Thursday (22 October 2026) remained solemn.

This year's commemoration served as a reflective milestone anchored in historical, philosophical, and pragmatic dimensions. Historically, the observance resurrects the spirit of the 1945 Resolusi Jihad (Jihad Resolution) issued by revered cleric KH Hasyim Asy'ari. The historical precedent demonstrates that Indonesia's fight for independence was forged through an indelible bond between religious faith and nationalism—two forces that complement rather than contradict each other.

For the people of West Sumatra, whose culture is guided by the philosophy Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Custom Based on Sharia, Sharia Based on the Holy Book), the roots of  santri (Islamic student) culture have long been intertwined with local heritage through the tradition of the surau (traditional Islamic learning lodge). From these wooden structures in the Minangkabau heartland emerged prominent scholars and national figures, including Sheikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Sheikh Sulaiman Al-Rasuli, and Sheikh M. Djamil Djambek. The surau served not merely as a house of Quranic instruction, but as a crucible shaping spiritual depth, intellect, and mental fortitude.

In response to digital disruption and rapid technological shifts, UIN Bukittinggi has positioned itself as a modern embodiment of the traditional surau. This strategic orientation was underscored through high-level academic forums, including an international lecture on Islamic civilisation by Dr.  Anis Malik Thoha from Sultan Sharif Ali Islamic University in Brunei. 



During her address as the ceremony inspector for the National Santri Day commemoration on Thursday (Oct 22), UIN Bukittinggi Rector Prof Silfia Hanani emphasized that the call to "Return to the Surau" is not a plea to retreat into the past. Instead, it represents a movement to internalize core values—moral integrity, self-reliance, and deep religious literacy—and translate them into contemporary academic spaces.

"Today’s santri must not only be proficient in reciting classical texts on traditional woven mats, but must also master digital literacy, science, and technology without severing their cultural and customary roots," Prof Silfia said.

The reading of the 2026 National Santri Day address by Rector Prof. Silfia Hanani.

This transformation provides a crucial pragmatic foundation for the younger generation. Amid risks of moral erosion and information overload in the digital era, the discipline and solidarity fostered by santri culture serve as an ethical bulwark for the nation. UIN Bukittinggi demonstrates that higher education modernization and technological mastery need not dilute traditional identity. By bridging the divide between scientific inquiry and religious wisdom, heritage becomes a steadfast moral anchor for future progress. (IRWANDI)

 UIN Bukittinggi Pukul Balik Penyimpangan di Kampus Lewat Evaluasi Berbasis Bukti

UIN Bukittinggi Pukul Balik Penyimpangan di Kampus Lewat Evaluasi Berbasis Bukti

BUKITTINGGI— Di tengah maraknya gelombang penyimpangan etika, pelecehan, hingga kecurangan akademik yang kian mencoreng citra dunia perguruan tinggi belakangan ini, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi memilih tidak tinggal diam. Langkah konkret diambil Lembaga Penjamin Mutu (LPM) UIN Bukittinggi melalui Workshop Penyusunan Dokumen Monitoring dan Evaluasi (Monev) serta Pelaporan yang dimulai pada Kamis (22/10/2026), sebagai momentum penting untuk membentengi institusi sekaligus memukul balik berbagai potensi pelanggaran secara terukur dan sistematis.

H. Afrinaldi, Ph.D.

Saat membuka workshop secara resmi, Wakil Rektor Urusan Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, H. Afrinaldi, Ph.D., yang mewakili Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, menegaskan bahwa penjaminan mutu dan penegakan etika bukan sekadar pemenuhan beban administratif. Ia menyoroti pentingnya komitmen kolektif seluruh elemen civitas akademika untuk menjaga nama baik serta marwah kampus Islam ini. Menurutnya, pembenahan sistemik melalui Monev yang jujur dan obyektif adalah kunci utama dalam merespons dinamika dan tantangan moral di lingkungan perguruan tinggi saat ini.

Kegiatan yang berlangsung hingga 23/10/2026 ini menghadirkan dua narasumber ahli, yaitu Dr. Yusuf Nalim, S.Si., M.Si. dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan dosen UIN Malang, Rosihan Aslihuddin, S.Sos., M.A.B., CRP., yang membedah secara mendalam metodologi penjaminan mutu serta penguatan instrumen evaluasi institusi.

Dr. Yusuf Nalim, S.Si., M.Si.

Tidak sekadar menjadi agenda rutin, pembaharuan instrumen Monev Etika dan Integritas Institusi ini menyasar lima benteng utama: menegakkan kepatuhan kode etik seluruh civitas akademika, memangkas praktik plagiarisme, memberantas kekerasan seksual lewat peran aktif Satgas PPKS, mengikis perundungan dan intoleransi, hingga menjamin tindak lanjut laporan pelanggaran secara transparan. Keseluruhan proses pengawasan etika ini dijalankan secara ketat dengan memegang prinsip kerahasiaan, perlindungan korban, dan kepatuhan prosedur demi menciptakan ruang kampus yang aman, inklusif, dan akuntabel.

Rosihan Aslihuddin, S.Sos., M.A.B., CRP

Langkah pembenahan ini diperkuat dengan menempatkan Monev nonakademik sebagai penggerak utama peningkatan mutu institusi. Pengawasan dijalankan berdasarkan prinsip ketat: berbasis standar dan bukti, objektif, transparan, akuntabel, serta dilaksanakan sesuai tingkatan risiko untuk menghasilkan rekomendasi yang realistis. Alur peningkatan mutu dirancang sistematis mulai dari penetapan standar, pelaksanaan layanan, pengumpulan bukti, analisis hasil, tindak lanjut, hingga verifikasi efektivitas guna memastikan tata kelola, layanan, dan sumber daya kampus semakin berkualitas.

Dr. Iswantir, Dt.Nan Kodo

Ketua LPM UIN Bukittinggi, Dr. Iswantir Dt. Nan Kodo, menyampaikan guna memastikan setiap evaluasi bermuara pada perubahan riil dan bukan sekadar formalitas di atas kertas, LPM UIN Bukittinggi menerapkan metodologi analisis berbasis bukti (evidence-based). Lewat lima tahapan komprehensif—mulai dari pembandingan capaian aktual, identifikasi kesenjangan, pembedahan akar masalah, pemetaan risiko, hingga eksekusi Rencana Tindak Lanjut (RTL)—setiap persoalan diselesaikan hingga ke akarnya. Simulasi perbaikan layanan administrasi yang berhasil dipangkas dari 7 hari menjadi 2,5 hari membuktikan bahwa pendekatan berbasis data ini efektif mewujudkan tata kelola perguruan tinggi yang responsif, berintegritas, dan terpercaya. (IRWANDI)

Oktober 21, 2026

 Pilar Risiko dan Integrasi Nilai: Mengurai Wajah Baru Mutu Perguruan Tinggi

Pilar Risiko dan Integrasi Nilai: Mengurai Wajah Baru Mutu Perguruan Tinggi

BUKITTINGGI — Pengawasan mutu di lingkungan perguruan tinggi kini tidak lagi sekadar menjadi ritual administratif tahunan atau ajang pengisian borang formalitas. Dalam Workshop Penyusunan Pedoman Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang digelar oleh Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi pada Kamis (29/10/2026), terjadi pergeseran paradigma yang fundamental: pengawasan kini bertumpu pada manajemen risiko serta integrasi nilai-nilai keilmuan dan tata kelola.

Dr. Yusuf Nalim

Narasumber kegiatan tersebut, Dr. Yusuf Nalim, praktisi mutu pendidikan tinggi sekaligus dosen Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan, menilai bahwa langkah ini menandai babak baru dalam tata kelola perguruan tinggi yang menuntut kampus tidak hanya responsif terhadap ancaman operasional, tetapi juga kokoh secara etis dan metodologis.

Mengantisipasi Badai Sebelum Datang

Pendekatan Monev berbasis risiko, jelas Nalim, membawa kampus pada kesadaran baru bahwa ancaman terhadap mutu bisa datang dari berbagai lini. Dalam dokumen pedoman yang disusun, terdapat lima spektrum risiko utama yang wajib diantisipasi:

Risiko Operasional:Gangguan pada proses pelaksanaan layanan dan kegiatan akademik.

Risiko Keuangan:Inefisiensi alokasi anggaran serta ketidakcukupan dana operasional.

Risiko Layanan & Teknologi:Kerentanan pada sistem informasi dan keamanan data digital.

Risiko Kepatuhan:Potensi ketidakpatuhan terhadap regulasi pemerintah maupun standar nasional.

Risiko Reputasi: Dampak kumulatif dari kegagalan operasional yang berpotensi meruntuhkan kepercayaan publik dan pemangku kepentingan.

Menurut Dr. Yusuf Nalim, pemetaan ini merawat fungsi pengawasan agar tidak lagi bertindak seperti "pemadam kebakaran" saat krisis terjadi, melainkan sebagai instrumen navigasi untuk menentukan prioritas intervensi dan langkah mitigasi sejak dini.

Sinergi Tiga Pilar: Agama, Sains, dan Transparansi


Cuplikan Bahan Tayang Dr. Yusuf Nalim Bertajuk Kerangka Monev Akademik dan Non Akademik

serta Prinsip Penyusunan Pedoman
.
Hal menarik dari penyusunan pedoman ini adalah penerapan prinsip integratif-interkonektif. Kampus dituntut menyelaraskan tiga elemen mendasar yang kerap berjalan sendiri-sendiri:

Nilai Keislaman/Etika:Menjadi kompas moral, etika kerja, dan orientasi kebermanfaatan bagi masyarakat.

Sains: Menyediakan landasan metodologis, rasionalitas, dan inovasi berbasis bukti (evidence-based).

Tata Kelola (Good Governance):Memastikan seluruh proses berjalan transparan, akuntabel, responsibel, adil, dan efektif.

Dr. Yusuf Nalim menekankan bahwa sinergi ketiga pilar tersebut penting agar integritas moral tidak kehilangan objektivitas keilmuan, sementara pengembangan sains tetap memiliki kompas etika dan tata kelola yang jelas.

Mencari Titik Temu Standar dan Identitas

Pesan inti dari pembaruan pedoman ini terletak pada keseimbangan antara standar umum dan kekhasan institusi. Meski instrumen ini dirancang fleksibel agar dapat disesuaikan dengan visi dan karakteristik keilmuan masing-masing perguruan tinggi, tantangan utamanya kini berada di tingkat eksekusi.

Keberhasilan penerapan Monev berbasis risiko dan integrasi nilai di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi pada akhirnya sangat bergantung pada komitmen kepemimpinan (top leadership) dan pengawalan civitas akademika. Tanpa keberanian untuk mentransformasi budaya kerja internal, pedoman yang tajam ini dikhawatirkan hanya akan berakhir sebagai dokumen normatif di atas kertas. (IRWANDI)

 Pilar Risiko dan Integrasi Nilai: Mengurai Wajah Baru Mutu Perguruan Tinggi

Pilar Risiko dan Integrasi Nilai: Mengurai Wajah Baru Mutu Perguruan Tinggi

BUKITTINGGI — Pengawasan mutu di lingkungan perguruan tinggi kini tidak lagi sekadar menjadi ritual administratif tahunan atau ajang pengisian borang formalitas. Dalam Workshop Penyusunan Pedoman Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang digelar oleh Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi pada Kamis (29/10/2026), terjadi pergeseran paradigma yang fundamental: pengawasan kini bertumpu pada manajemen risiko serta integrasi nilai-nilai keilmuan dan tata kelola.

Dr. Yusuf Nalim 

Narasumber kegiatan tersebut, Dr. Yusuf Nalim, praktisi mutu pendidikan tinggi sekaligus dosen Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan, menilai bahwa langkah ini menandai babak baru dalam tata kelola perguruan tinggi yang menuntut kampus tidak hanya responsif terhadap ancaman operasional, tetapi juga kokoh secara etis dan metodologis.

Mengantisipasi Badai Sebelum Datang

Pendekatan Monev berbasis risiko, jelas Nalim, membawa kampus pada kesadaran baru bahwa ancaman terhadap mutu bisa datang dari berbagai lini. Dalam dokumen pedoman yang disusun, terdapat lima spektrum risiko utama yang wajib diantisipasi:

Risiko Operasional:Gangguan pada proses pelaksanaan layanan dan kegiatan akademik.

Risiko Keuangan:Inefisiensi alokasi anggaran serta ketidakcukupan dana operasional.

Risiko Layanan & Teknologi:Kerentanan pada sistem informasi dan keamanan data digital.

Risiko Kepatuhan:Potensi ketidakpatuhan terhadap regulasi pemerintah maupun standar nasional.

Risiko Reputasi: Dampak kumulatif dari kegagalan operasional yang berpotensi meruntuhkan kepercayaan publik dan pemangku kepentingan.

Menurut Dr. Yusuf Nalim, pemetaan ini merawat fungsi pengawasan agar tidak lagi bertindak seperti "pemadam kebakaran" saat krisis terjadi, melainkan sebagai instrumen navigasi untuk menentukan prioritas intervensi dan langkah mitigasi sejak dini.

Sinergi Tiga Pilar: Agama, Sains, dan Transparansi

Cuplikan Bahan Tayang Dr. Yusuf Nalim Bertajuk Kerangka Monev Akademik dan Non Akademik
serta Prinsip Penyusunan Pedoman

Hal menarik dari penyusunan pedoman ini adalah penerapan prinsip *integratif-interkonektif*. Kampus dituntut menyelaraskan tiga elemen mendasar yang kerap berjalan sendiri-sendiri:

Nilai Keislaman/Etika:Menjadi kompas moral, etika kerja, dan orientasi kebermanfaatan bagi masyarakat.

Sains: Menyediakan landasan metodologis, rasionalitas, dan inovasi berbasis bukti (evidence-based).

Tata Kelola (Good Governance):Memastikan seluruh proses berjalan transparan, akuntabel, responsibel, adil, dan efektif.

Dr. Yusuf Nalim menekankan bahwa sinergi ketiga pilar tersebut penting agar integritas moral tidak kehilangan objektivitas keilmuan, sementara pengembangan sains tetap memiliki kompas etika dan tata kelola yang jelas.

Mencari Titik Temu Standar dan Identitas

Pesan inti dari pembaruan pedoman ini terletak pada keseimbangan antara standar umum dan kekhasan institusi. Meski instrumen ini dirancang fleksibel agar dapat disesuaikan dengan visi dan karakteristik keilmuan masing-masing perguruan tinggi, tantangan utamanya kini berada di tingkat eksekusi.

Keberhasilan penerapan Monev berbasis risiko dan integrasi nilai di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi pada akhirnya sangat bergantung pada komitmen kepemimpinan (top leadership) dan pengawalan civitas akademika. Tanpa keberanian untuk mentransformasi budaya kerja internal, pedoman yang tajam ini dikhawatirkan hanya akan berakhir sebagai dokumen normatif di atas kertas. (IRWANDI)

 UIN Bukittinggi dan Ijtihad Mengelola Ruang Publik Keagamaan

UIN Bukittinggi dan Ijtihad Mengelola Ruang Publik Keagamaan

BUKITTINGGI — Catatan kinerja dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan Menteri Agama Nasaruddin Umar sebagai salah satu jajaran kabinet yang meraih persepsi positif publik. Hasil survei Lembaga Adidaya yang digelar pada 15–21 September 2026 mencatat tingkat elektabilitas Sang Menteri berada di angka 10,8 persen. Sementara itu, riset Piramida Research and Consulting merekam tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Profesor Nasaruddin mencapai 84,3 persen.

Ma'ahad al Jami'ah UIN Bukittinggi membekali para lulusan dengan keterampilan dasar beragama dan sikap mental yang toleran dan inklusif. 

Di balik tingginya angka kepuasan tersebut, menyeruak pertanyaan mendasar mengenai tata kelola keagamaan oleh negara: Mengapa Indonesia tetap membutuhkan Kementerian Agama jika agama kerap dipahami sebagai ranah personal?

Agama sebagai Arena Publik dan Modal Sosial

Dalam konteks masyarakat Indonesia, agama tidak sebatas keyakinan pribadi seorang individu. Kehadirannya melintasi ruang publik, melingkupi pendidikan, pernikahan, peribadatan, hingga struktur sosial antar-kelompok. Negara tidak mengintervensi untuk mengambil alih iman warga, melainkan mengelola kebutuhan publik secara adil dan terstruktur.

Integrasi nilai-nilai keagamaan sebagai perekat sosial tecermin jelas di daerah-daerah. Keyakinan dan ritual bersama berfungsi membangun solidaritas kelompok. Namun, di tengah ancaman politisasi tafsir agama, peran lembaga negara dan perguruan tinggi keagamaan menjadi sangat krusial untuk memastikan nilai keagamaan tetap inklusif.

Salah satu pilar strategis dalam menyebarkan ajaran agama yang inklusif di Sumatra Barat adalah Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), UIN Bukittinggi berdiri di barisan terdepan pemikiran Islam moderat, menenun keberagaman tradisi Minangkabau dengan identitas kebangsaan.

Pada tingkat dasar, kehadiran Ma'had al-Jami'ah (pesantren mahasiswa) UIN Bukittinggi memainkan peran penting dalam menanamkan sikap moderasi dalam beragama ke dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah kian derasnya polarisasi digital, lembaga ini menjembatani ikhtiar akademik dengan nuansa  pesantren, membekali para lulusan dengan keterampilan dasar beragama dan sikap mental yang toleran dan inklusif demi menjaga agama tetap menjadi modal sosial yang konstruktif di ruang publik.

"Kehadiran perguruan tinggi keagamaan negeri seperti UIN Bukittinggi adalah bukti konkret bahwa negara hadir tidak hanya untuk mengurus administrasi, tetapi juga membangun rasionalitas spiritual dan ketahanan sosial di tengah masyarakat," ujar Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Silfia Hanani.

Prof. Dr. Silfia Hanani

Ketahanan Spiritual dan Tanggung Jawab Negara

Agama kerap menjadi modal psikologis bagi masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi melalui doktrin seperti qanaah (merasa cukup), kesabaran, dan tawakal. Kendati demikian, nilai-nilai spiritual ini tidak boleh dijadikan pembenar atas ketimpangan sosial atau kelalaian pelayanan publik.

Untuk memastikan ketahanan spiritual menjelmakan kemajuan yang nyata, lembaga negara dan institusi keagamaan wajib menunaikan tiga pilar utama:

Pemerataan Pelayanan: Kepuasan publik yang tinggi terhadap Kementerian Agama harus diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan, efisiensi birokrasi, serta transparansi kelembagaan. 

UIN Bukittinggi menunjukkan komitmen kuat dalam membangun Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Upaya ini digerakkan melalui kerangka strategis RANDANG—akronim dari Ramah Layanan, Akses Terintegrasi, Navigasi Mudah, Data Lengkap, Aplikasi Canggih, Nilai Efisien, dan Galeri WBK/WBBM.


Pendidikan Inklusif:UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi terus memperluas akses pendidikan tinggi keagamaan yang moderat guna melahirkan lulusan yang mampu memperkuat kohesi sosial di tengah dinamika regional. Program pengabdian masyarakat internasional UIN Bukittinggi pada 2026 di Thailand Selatan menjadi bukti nyata penerapan pendidikan keagamaan yang inklusif dan moderat tersebut.


Keadilan dan Kesejahteraan:Keseimbangan antara legitimasi moral keagamaan dan penegakan hukum yang adil tetap menjadi syarat mutlak bagi terwujudnya stabilitas nasional yang sehat. Prinsip ini dijalankan secara nyata oleh para ahli hukum Islam dan mediator tersertifikasi dari UIN Bukittinggi yang aktif mendamaikan sengketa keluarga di Pengadilan Agama.


Penilaian positif terhadap Menteri Agama Nasaruddin Umar menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa bangsa ini membutuhkan kementerian agama bukan untuk menggantikan kewajibannya dalam menghadirkan kesejahteraan, melainkan untuk menjamin kebebasan beragama sekaligus memperkuat kehidupan bermasyarakat. (IRWANDI)

 Religious Affairs Minister's Performance and the Role of UIN Bukittinggi: Testing the Meaning of State Presence in Religious Life

Religious Affairs Minister's Performance and the Role of UIN Bukittinggi: Testing the Meaning of State Presence in Religious Life

BUKITTINGGI, INDONESIA— The two-year performance record of President Prabowo Subianto’s administration has placed Minister of Religious Affairs Nasaruddin Umar among cabinet members enjoying positive public perception. A survey by the Adidaya Institute conducted from Sept 15 to 21, 2026, recorded the minister's electability rating at 10.8 per cent. Meanwhile, research firm Piramida Research and Consulting recorded public satisfaction with Professor Nasaruddin’s performance at 84.3 per cent.

Minister of Religious Affairs of the Republic of Indonesia, Professor Nasaruddin Umar.

Behind these satisfaction figures, a fundamental question emerges regarding the state's governance of religious affairs: Why does Indonesia still require a Ministry of Religious Affairs if religion is often understood as a personal matter?

Religion as a Public Arena and Social Capital

In the context of Indonesian society, religion is not merely an individual's private belief. Its presence spans the public sphere, encompassing education, marriage, worship, and inter-group social structures. The state does not intervene to take over citizens' faith, but rather to manage public needs in a fair and structured manner.

The integration of religious values as a social glue is clearly reflected in the regions. Moreover, shared beliefs and rituals function to build group solidarity. However, amid the threat of politicized religious interpretation, the role of state institutions and religious higher education institutions becomes crucial to ensuring religious values remain inclusive.

One strategic pillar in disseminating inclusive religious teachings in West Sumatra is the Sjech M. Djamil Djambek State Islamic University (UIN) Bukittinggi. As a State Islamic Higher Education Institution (PTKIN), the university stands at the forefront of moderate Islamic thought, weaving together the diversity of Minangkabau traditions with national identity.

At a foundational level, UIN Bukittinggi’s Ma'had al-Jami'ah (student boarding school) plays a crucial role in instilling Islamic moderation into daily life. Amid growing digital polarization, it bridges academic pursuits with boarding-school discipline, equipping graduates to become tolerant, inclusive social actors who preserve religion as constructive social capital in the public sphere.

Ma’had Al-Jamiah at the State Islamic University (UIN) Bukittinggi held a graduation ceremony on July 4, 2026  for 331 students who completed its Quran memorisation program.

"The presence of state religious universities like UIN Bukittinggi is concrete proof that the state is present not only to handle administration, but also to build spiritual rationality and social resilience among the public," explained Professor Silfia Hanani, Rector of UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.

Professor Silfia Hanani, rector of UIN Bukittinggi

Spiritual Resilience and State Responsibility

Religion often serves as psychological capital for the public when coping with economic uncertainty through doctrines such as qanaah (contentment), patience, and tawakal (trust in God). Nevertheless, these spiritual values must not be used to justify social inequality or public service negligence.

To ensure spiritual resilience translates into tangible progress, state and religious institutions must deliver on three key pillars:

Service Distribution: High public satisfaction with the Ministry of Religious Affairs must be matched by improvements in service quality, bureaucratic efficiency, and institutional transparency. 

State Islamic University (UIN) Bukittinggi is demonstrating strong commitment to building an Integrity Zone toward a Corruption-Free Area (WBK) and a Clean and Serving Bureaucratic Area (WBBM). This effort is driven by a strategic framework designated as RANDANG—an acronym representing Friendly Service (Ramah Layanan), Integrated Access (Akses Terintegrasi), Easy Navigation (Navigasi Mudah), Comprehensive Data (Data Lengkap), Advanced Applications (Aplikasi Canggih), Value Efficiency (Nilai Efisien), and WBK/WBBM Gallery (Galeri WBK/WBBM).

Preliminary Assessment of the Integrity Zone (ZI) Development toward a Corruption-Free Area (WBK) and a Clean and Serving Bureaucratic Area (WBBM) on Monday, February 3, 2025.

Inclusive Education: UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi continues to expand access to moderate religious higher education, producing graduates capable of strengthening social cohesion amid regional dynamics.

UIN Bukittinggi's 2026 international community service program in Southern Thailand exemplifies inclusive, moderate religious education aimed at producing graduates who strengthen regional social cohesion.

Justice and Welfare: A balance between religious moral legitimacy and fair law enforcement remains an absolute prerequisite for healthy national stability.

A healthy national stability depends strictly on balancing religious moral legitimacy with fair law enforcement—a principle put into practice by qualified Islamic legal scholars and certified mediators from UIN Bukittinggi who reconcile family disputes in Religious Courts.

The positive assessment of Religious Affairs Minister Nasaruddin Umar serves as a moment to reaffirm that the nation requires a ministry for religious affairs not to substitute its duty of providing welfare, but to guarantee freedom of religion and strengthen communal life. (IRWANDI)

Oktober 20, 2026

Reframing Social Mobility Across Indonesia: Two Years of ‘Asta Cita’ and the Bridging Dreams at UIN Bukittinggi

Reframing Social Mobility Across Indonesia: Two Years of ‘Asta Cita’ and the Bridging Dreams at UIN Bukittinggi

BUKITTINGGI, INDONESIA— For many young souls in the distant provinces of Indonesia, the road to higher education has long been framed by hardship. Against the backdrop of ambition, financial distress often casts a persistent shadow, threatening to cut short the aspirations of promising youths before they even set foot on a university campus. Yet, across the rolling hills of West Sumatra, that narrative is steadily shifting.

Press Conference on the Ministry of Religious Affairs’ Two-Year Achievements in Advancing the Asta Cita Agenda

Inside the lecture halls of Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi (UIN Bukittinggi), the impact of structured state interventions is visible not merely in policy metrics, but in transformed lives. For UIN Bukittinggi Vice-Chancellor Prof. Dr. Silfia Hanani, the true measure of institutional and religious development transcends fiscal balance sheets and official press releases.

"In state Islamic higher education institutions like UIN Bukittinggi, targeted assistance initiatives such as the Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah are far more than mere financial disbursements," Prof. Silfia remarked. "They represent a critical lifeline—a bridge that spans the divide between vulnerability and opportunity."

She emphasized that state-backed scholarship frameworks have effectively broken the cycle of despair for students hailing from underprivileged backgrounds. Youths who once faced the grim prospect of academic drop-out now walk the corridors of higher learning with equal footing, equipped with the security needed to earn their degrees and uplift their families' socioeconomic standing.

A Nationwide Safety Net

This local reality mirrors the broader achievements outlined during the two-year milestone of President Prabowo Subianto’s administration under the Asta Cita development framework.

Data released by the Ministry of Religious Affairs (Kemenag) reveals that between 2025 and 2026, the Program Indonesia Pintar (PIP) disbursed Rp 4.07 trillion (approx. RM 1.12 billion) to reach over 5.2 million students across Islamic, Christian, Catholic, and Hindu educational institutions. Concurrently, the KIP Kuliah initiative channelled Rp 3.032 trillion to support 289,255 university students, complemented by the Beasiswa Indonesia Bangkit scheme in partnership with the Endowment Fund for Education (LPDP), which funded 3,659 scholars with an allocation of Rp 1.377 trillion.

Addressing a press conference in Jakarta on Monday (Oct 19), Minister of Religious Affairs Nasaruddin Umar underscored the core philosophy behind these numbers: "Our primary obligation is to ensure that economic limitations never silence the academic aspirations of Indonesia’s youth."

 UIN Bukittinggi has demonstrated its commitment to students with disabilities by providing customized motorized tricycles to assist with campus transportation.

Nourishing Communities, Catalyst for Local Economies

The state's intervention extends well beyond academic tuition. Under the national Free Nutritious Meal (Makan Bergizi Gratis) initiative, over 6.3 million students and traditional Islamic boarding school (pesantren) scholars have received daily nutritional support, alongside free health screenings (Cek Kesehatan Gratis) extended to 3.2 million youths.

Prof. Silfia Hanani during a Micro, Small, and Medium Enterprises (MSME) disaster recovery and capacity-building workshop organized by the Ministry of MSMEs at UIN Bukittinggi, West Sumatra, Thursday (Oct 15, 2026).

Deputy Minister of Religious Affairs Romo Muhammad Syafi’i noted that embedding nutrition and wellness programs within the pesantren ecosystem yields a dual dividend. By sourcing produce and catering needs from local farmers and small enterprises, these institutions double as economic drivers for surrounding rural villages. This institutional strengthening is further cemented by the newly established Directorate-General of Pesantren Education.

The Rector of UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, has received a plaque of appreciation from Rahmadi, the Secretary to the Deputy for Entrepreneurship at the Ministry of Micro, Small, and Medium Enterprises.

On the socio-economic front, Religious Affairs Ministry Secretary-General Kamaruddin Amin reported that national collections for zakat, donations, and religious endowments reached Rp 44.698 trillion, benefiting nearly 150 million recipient records. Furthermore, cash-waqf assets swelled to Rp 4.7 trillion, powering scholarship programs and productive waqf incubators nationwide.

Sustaining the Synergy

The overarching impact of these policies is reflected in Indonesia's Religious Harmony Index, which climbed to 77.89 in 2025—surpassing the national development target. Government Communications Bureau Head Syahganda Nainggolan commended the ministry for leveraging faith-based institutions as catalysts for national unity, integrity, and human capital development.

UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi hosted the 2026 Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR) annual meeting from June 3 to 4, 2026.

Reflecting on the road ahead, Prof. Silfia Hanani reiterated that the ultimate test lies in long-term continuity. She called for sustained collaboration between central ministries, regional authorities, and academic institutions like UIN Bukittinggi.

"At the end of the day," Prof. Silfia observed, "every unit of public expenditure must translate into tangible social value—ensuring that no child, regardless of background, is left behind in the pursuit of a better future." (IRWANDI)


Read More


International Office and Partnerships