Agustus 02, 2026

From Bukittinggi to Thanjavur: Indonesian Academic Takes Noncommutative Algebra to the World

From Bukittinggi to Thanjavur: Indonesian Academic Takes Noncommutative Algebra to the World

 From Bukittinggi to Thanjavur: Indonesian Academic Takes Noncommutative Algebra to the World

THANJAVUR — Set against the backdrop of Thanjavur's rich heritage in Tamil Nadu, India, world-class pure mathematics took center stage from July 6 to 17, 2026. The historic city played host to the CIMPA International School: Homological Methods in Noncommutative Algebra and Number Theory, drawing top researchers and scholars from seven nations: France, India, Indonesia, the Philippines, Sri Lanka, Switzerland, and the United States.


Representing Indonesia on this prestigious global stage was Dr. Risnawita, M.Si., a mathematics lecturer from the Faculty of Science and Technology at UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Her selection highlights the growing international standing of academics from Indonesia’s state Islamic higher education institution.

Organized by the France-based Centre International de Mathématiques Pures et Appliquées (CIMPA) in collaboration with SASTRA Deemed to be University, the two-week intensive program aimed to accelerate knowledge transfer and foster international research networks. Delegates engaged in advanced lectures, scientific seminars, and rigorous problem-solving sessions led by world-renowned mathematicians.

Advancing Cutting-Edge Research 


For Dr. Risnawita, the international school provided a direct platform to align her specialized research in Noncommutative Algebra—specifically Leavitt Path Algebra—with global advancements. As a rapidly evolving domain in modern mathematics, the field plays a critical role in ring theory, graph theory, representation theory, and operator analysis.


"Engaging directly with global authorities allowed us to refine our research directions and benchmark our academic work against international standards," Dr. Risnawita noted.

The intensive interactions are expected to yield long-term dividends, including joint scientific publications in peer-reviewed journals, academic exchange programs, and institutional research partnerships.

A Strategic Milestone for Indonesian Academia

The milestone drew high praise from university leadership. Prof. Dr. Silfia Hanani, S.Ag., M.Si., Rector of UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, commended the achievement as a testament to the institution’s rising global profile.

"We take immense pride in Dr. Risnawita’s accomplishment. Her participation as Indonesia’s delegate at CIMPA India demonstrates that our faculty's academic competence is recognized internationally," said Prof. Silfia Hanani. "Building these global scientific networks is a vital investment that inspires our entire academic community to step onto the world stage."


Dr. Risnawita, M.Si.

The university plans to channel the insights gained in Thanjavur back into its core academic mission:

Curriculum Innovation:Integrating advanced mathematical concepts into undergraduate and graduate coursework.

Global Research Standards:Elevating local research projects through international collaboration and publication.

Community Impact: Applying structured, analytical problem-solving frameworks to address societal challenges.

Dr. Risnawita's participation underscores a broader momentum within Indonesian higher education—proving that geography poses no barrier to contributing meaningfully to global scientific discourse.        [IO Media Centre]

    Menembus Jantung Matematika Modern di Thanjavur: Dosen UIN Bukittinggi Melenggang ke Forum CIMPA India, Membawa Aljabar Nonkomutatif ke Panggung Dunia.

Menembus Jantung Matematika Modern di Thanjavur: Dosen UIN Bukittinggi Melenggang ke Forum CIMPA India, Membawa Aljabar Nonkomutatif ke Panggung Dunia.

 

Menembus Jantung Matematika Modern di Thanjavur: Dosen UIN Bukittinggi Melenggang ke Forum CIMPA India, Membawa Aljabar Nonkomutatif ke Panggung Dunia.

THANJAVUR, INDIA — Di antara jejak sejarah dan keagungan arsitektur kuno Thanjavur, Tamil Nadu, India, denyut sains modern berdetak kencang pada 6–17 Juli 2026. Di kota inilah, CIMPA International School: Homological Methods in Noncommutative Algebra and Number Theory  mempertemukan para matematikawan pilihan dari tujuh negara: Prancis, India, Indonesia, Filipina, Sri Lanka, Swiss, hingga Amerika Serikat.


Di tengah jejaring akademisi dunia tersebut, Indonesia diwakili oleh Dr. Risnawita, M.Si., dosen Program Studi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Kehadirannya menjadi penanda penting bahwa tradisi riset matematika murni dari kampus keagamaan negeri mampu berdiri setara dalam diskursus ilmiah global.

Forum bereputasi internasional yang digagas Centre International de Mathématiques Pures et Appliquées (CIMPA)—lembaga nirlaba berpusat di Prancis—bekerja sama dengan SASTRA Deemed to be University ini dirancang sebagai ruang transfer pengetahuan dan pematangan riset. Selama dua pekan, para peserta menempuh agenda intensif: kuliah pakar, seminar, diskusi kelompok, hingga pemecahan masalah kompleks (problem sessions) yang dibimbing langsung oleh matematikawan terkemuka.

Menautkan Kepakaran di Arena Global

Bagi Risnawita, forum ini memiliki dimensi substantif yang melampaui sekadar kehadiran formal. Bidang riset yang ditekuninya—Aljabar Nonkomutatif, khususnya Leavitt Path Algebra—merupakan salah satu cabang matematika modern yang tengah berkembang pesat. Keterkaitannya yang erat dengan teori cincin, teori graf, teori representasi, hingga analisis operator menjadikan topik ini perhatian utama komunitas internasional.

Kesesuaian materi kegiatan dengan fokus penelitian yang ia kembangkan membuka ruang dialog langsung bersama para ahli dunia. Melalui diskusi tatap muka, masukan kritis dan perspektif baru berhasil diperoleh untuk mempertajam arah riset yang sedang maupun akan dikembangkan di tanah air.

Lebih dari sekadar pembelajaran teknis, interaksi intensif lintas negara ini membuka kran kolaborasi strategis: penulisan artikel ilmiah bersama untuk jurnal internasional bereputasi, pertukaran akademik, hingga inisiasi kerja sama kelembagaan jangka panjang.

Apresiasi dan Impact Strategis

Pencapaian ini mendapat sambutan hangat dari pimpinan perguruan tinggi. Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, S.Ag., M.Si., menyampaikan apresiasi tinggi atas kiprah internasional karyawannya.

 "Kehadiran Dr. Risnawita sebagai delegasi Indonesia di forum CIMPA merupakan bukti nyata bahwa kualitas dan kepakaran akademisi UIN Bukittinggi makin diakui di tingkat global. Kami terus berkomitmen mendukung para dosen untuk mengepakkan sayap di panggung internasional, karena jejaring ilmiah yang dibangun hari ini adalah investasi besar bagi kemajuan kampus dan bangsa," ujar Prof. Silfia Hanani.

Dr. Risnawita, M.Si.

Keterlibatan ini dipandang sebagai amunisi segar dalam mentransformasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi di lingkungan kampus: (1) Pembaruan Pembelajaran: Membawa perkembangan ilmu matematika mutakhir langsung ke dalam ruang kuliah. (2) Penguatan Riset:Meningkatkan kualitas penelitian dosen agar berorientasi pada standar dan kolaborasi global. (3) Pengabdian Masyarakat: Menjadikan hasil riset murni sebagai landasan berpikir logis dan analitis dalam pemecahan masalah di masyarakat.

Langkah Risnawita di Thanjavur menegaskan bahwa batas-batas geografis dan kelembagaan tak lagi menjadi penghalang untuk berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dunia. Dari Bukittinggi untuk sains global, komitmen itu kini mewujud nyata.[IO Media Centre]

Juli 31, 2026

 Faith Communities Awakening to Heal the Earth

Faith Communities Awakening to Heal the Earth

Faith Communities Awakening to Heal the Earth

Dr. Irwandi

The Keynote Speaker of NICMCR  Annual Meeting 2026/Lecturer of UIN Bukittinggi

Not all meetings end when the conference hall doors close. Some truly find their purpose only after participants return to their respective home countries—when presentation notes turn into quiet reflection, and when discussions that once sounded purely academic slowly transform into a moral calling. Such is the enduring mark left by the Workshop and Annual Meeting of the Netherlands–Indonesia Consortium for Muslim–Christian Relations (NICMCR) 2026, held at UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi in West Sumatra in early June. Now, as the calendar turns to late July, what lingers is no longer the agenda of session proceedings or the opening ceremonies, but a question that grows ever more pressing: Can faith communities once again become guardians of the Earth in an ever-changing world?

Dr. Irwandi

That question feels increasingly urgent at a time when the ecological crisis is no longer just a subject of scholarly debate. Climate change, natural disasters, the loss of green spaces, and environmental degradation have become lived realities for communities across the globe. At the same time, social polarization and rising identity politics often widen the divide between peoples. Yet, the Earth makes no distinction about who lives upon it. When floods strike, when the ground shifts, or when forests lose their delicate balance, humanity faces the exact same reality. It is at this critical juncture that religion is called upon to revive the values of compassion, care, and shared responsibility.

Sitka Spruce, Alaska. Source: https://www.green.earth 

This very awareness served as the common thread connecting Muslim and Christian academics from Indonesia and the Netherlands during the NICMCR 2026 forum. Centred on the theme Living in a Changing World: Religion, Ecology, and Responsibility , the gathering provided a space for dialogue that transcended theological boundaries. Discussions went beyond searching for common ground among faiths; they evolved into a deeper reflection on how religion can actively help address ecological and humanitarian challenges. Research, education, and community service were seen as a shared path to translating religious values into concrete action.

Delegation of  NICMCR 2026

Bukittinggi proved to be far more than a mere host city. Amid the Minangkabau society, which steadfastly holds to the philosophy Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Custom based on Religious Law, Religious Law based on the Holy Book), participants witnessed firsthand how religion, culture, and social life can flourish in harmony. West Sumatra’s experience with recurring natural disasters reinforced the reality that nurturing humanity's relationship with nature is not merely an ecological issue, but a profound moral obligation. The global perspectives brought by Dutch delegates met the long-standing local wisdom of the Minangkabau people, giving rise to a dialogue that was both academically rich and deeply grounded.


For the Rector of UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, the forum served as a poignant reminder that interfaith dialogue must not end as an annual academic routine. In her view, interfaith conversations must be continually nurtured and translated into tangible cooperation to safeguard the Earth as a shared duty of all humanity. This outlook demonstrates that diversity is not merely a social reality to be tolerated, but a vital moral asset for building solidarity in the face of pressing global challenges.

Behind the successful hosting of this international forum, the university’s Center for International Office played a pivotal role. Through sustained networking with the NICMCR and various partner universities in the Netherlands, the conference stood as a concrete reflection of the university’s academic diplomacy.  NICMCR 2026 is as part of UIN Bukittinggi’s ongoing commitment to strengthening higher education internationalisation. The,  internationalisation goes beyond signing memorandums of understanding; it is realized through collaborative research, academic exchanges, joint scientific publications, and an expanding global network.



Praise for the forum also came from Dr. Frans Dokman, a member of the NICMCR Steering Committee. He noted that the gathering in Bukittinggi showcased the strong commitment of all partners in maintaining the consortium’s long-term sustainability. Furthermore, he encouraged academics to take a more serious approach to developing studies on the decolonisation of research methodologies. Global challenges, he argued, require scientific approaches that do not rely solely on dominant perspectives, but instead offer equal space to the experiences of local communities, religious traditions, and knowledge born out of distinct cultural contexts.


Perhaps the most significant legacy of NICMCR 2026 is not an expanded list of international partnerships or a new set of joint research agendas. Far more important is the growing realization that religion still possesses the moral energy to unite humanity in tackling shared crises. When faith communities choose to engage in dialogue, learn from one another, and work together to protect the environment, they breathe life into the true meaning of faith as a force that sustains life. From Bukittinggi, a simple message continues to resonate: the future of our planet depends not only on scientific breakthroughs or technological feats, but on the willingness of believers to make care for one another and for nature an everyday expression of their faith.  

Juli 30, 2026

 NICMCR Annual Meeting 2026 di UIN Bukittinggi: Kesadaran Pemeluk Agama Kembali Merawat Bumi

NICMCR Annual Meeting 2026 di UIN Bukittinggi: Kesadaran Pemeluk Agama Kembali Merawat Bumi

Tidak semua pertemuan berakhir ketika ruang sidang ditutup. Ada yang justru menemukan maknanya setelah para peserta kembali ke negaranya masing-masing, ketika catatan presentasi berubah menjadi renungan, dan ketika diskusi yang semula terdengar akademis perlahan menjelma menjadi panggilan moral. Begitulah jejak yang ditinggalkan Workshop dan Annual Meeting Netherlands–Indonesia Consortium for Muslim–Christian Relations (NICMCR) 2026 di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Sumatera Barat, pada awal Juni lalu (3-4 Juni 2026). Kini, ketika kalender telah bergeser ke penghujung Juli, yang tertinggal bukan lagi agenda sidang ataupun seremoni pembukaan, melainkan sebuah pertanyaan yang semakin mendesak: mampukah para pemeluk agama kembali menjadi penjaga bumi di tengah dunia yang terus berubah?


Pertanyaan itu terasa kian relevan ketika krisis ekologis tidak lagi sekadar menjadi bahan diskusi ilmiah. Perubahan iklim, bencana alam, hilangnya ruang hijau, hingga menurunnya kualitas lingkungan telah menjadi pengalaman yang dirasakan masyarakat di berbagai belahan dunia. Pada saat yang sama, polarisasi sosial dan menguatnya politik identitas sering kali memperlebar jarak antarmanusia. Padahal, bumi tidak pernah membedakan siapa yang tinggal di atasnya. Ketika banjir datang, ketika tanah bergerak, atau ketika hutan kehilangan keseimbangannya, semua manusia menghadapi kenyataan yang sama. Di titik inilah agama dipanggil untuk menghadirkan kembali nilai-nilai kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.

Dr. Frans Dokman, pengarah NICMCR

Kesadaran itulah yang menjadi benang merah pertemuan para akademisi Muslim dan Kristen dari Indonesia serta Belanda dalam forum NICMCR 2026. Mengusung tema Living in a Changing World: Religion, Ecology, and Responsibility, forum ini menghadirkan ruang dialog yang melampaui batas-batas teologis. Percakapan tidak berhenti pada pencarian titik temu antariman, melainkan berkembang menjadi refleksi mengenai bagaimana agama dapat berkontribusi dalam menjawab tantangan ekologis dan kemanusiaan. Penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat dipandang sebagai jalan bersama untuk menerjemahkan nilai-nilai keagamaan ke dalam tindakan yang nyata.

Prof. Dr. Silfia Hanani, Rektor UIN Bukittinggi

Bukittinggi menjadi lebih dari sekadar kota penyelenggara. Di tengah masyarakat Minangkabau yang memegang teguh falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, para peserta menemukan contoh bagaimana agama, budaya, dan kehidupan sosial dapat tumbuh dalam harmoni. Pengalaman Sumatera Barat yang beberapa kali menghadapi bencana alam semakin mempertegas bahwa menjaga hubungan manusia dengan alam bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral. Perspektif global yang dibawa peserta dari Belanda bertemu dengan kearifan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat Minangkabau, melahirkan dialog yang tidak hanya kaya secara akademik, tetapi juga membumi.


Bagi Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, forum ini menjadi pengingat bahwa dialog lintas iman tidak boleh berhenti sebagai agenda akademik tahunan. Menurutnya, percakapan antarumat beragama perlu terus dirawat dan diterjemahkan ke dalam kerja sama yang nyata untuk menjaga bumi sebagai tanggung jawab bersama seluruh umat manusia. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman bukanlah sekadar fakta sosial yang harus diterima, melainkan modal moral untuk membangun solidaritas dalam menghadapi berbagai tantangan global.


Forum ini menjadi salah satu wujud nyata diplomasi akademik universitas.Penyelenggaraan NICMCR 2026 dipandang sebagai bagian dari komitmen UIN Bukittinggi dalam memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi. Internasionalisasi, dalam perspektif tersebut, tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi diwujudkan melalui kolaborasi riset, pertukaran akademik, publikasi ilmiah, dan jejaring yang terus berkembang.


Apresiasi terhadap penyelenggaraan forum juga datang dari Dr. Frans Dokman, pengarah NICMCR. Ia menilai pertemuan di UIN Bukittinggi memperlihatkan kuatnya komitmen seluruh mitra dalam menjaga keberlanjutan konsorsium. Lebih jauh, ia mendorong para akademisi untuk semakin serius mengembangkan kajian mengenai dekolonisasi metodologi penelitian. Menurutnya, tantangan global membutuhkan pendekatan ilmiah yang tidak hanya bertumpu pada perspektif yang dominan, tetapi juga memberi ruang yang setara bagi pengalaman masyarakat lokal, tradisi keagamaan, dan pengetahuan yang lahir dari konteks budaya masing-masing.

 
Barangkali, warisan terpenting dari NICMCR 2026 bukanlah bertambahnya daftar kerja sama internasional ataupun lahirnya agenda penelitian bersama. Yang jauh lebih penting ialah tumbuhnya kesadaran bahwa agama masih memiliki energi moral untuk menyatukan manusia dalam menghadapi persoalan bersama. Ketika para pemeluk agama memilih berdialog, belajar satu sama lain, dan bekerja bersama menjaga lingkungan, mereka sedang menghidupkan kembali makna iman sebagai kekuatan yang merawat kehidupan. 


Dari Bukittinggi, sebuah pesan sederhana terus bergema: masa depan bumi tidak hanya bergantung pada kemajuan ilmu pengetahuan atau kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kesediaan para pemeluk agama menjadikan kepedulian terhadap sesama dan alam sebagai bagian dari laku iman sehari-hari.[IRWANDI]

Bridging Borders: UIN Bukittinggi Partnerships Drive Academic Tourism Diplomacy

Bridging Borders: UIN Bukittinggi Partnerships Drive Academic Tourism Diplomacy

BUKITTINGGI, INDONESIA— The West Sumatran city of Bukittinggi is doubling down on its role as an academic and cultural hub in Indonesia, leveraging cross-border educational diplomacy to boost regional tourism.

Bukittinggi's iconic Jam Gadang mesmerises under the night sky.

UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi (State Islamic University of Sjech M. Djambek Bukittinggi) has partnered with the Bukittinggi City Government to host an international internship programme for students from Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

The initiative underscores a growing trend among Indonesian higher education institutions to move beyond traditional classroom instruction, serving as catalysts for local development through international networks.

The cross-border partnership was formalised on Thursday (July 30) as the UKM students were officially received by Andreas, Secretary of the Bukittinggi Tourism, Youth, and Sports Agency (Disparpora).

Hands-On Governance

Speaking at the reception, Andreas highlighted that the international interns would gain direct exposure to local tourism governance rooted in rich historical and cultural heritage.

"The Tourism Agency oversees an interconnected ecosystem—ranging from destination management, marketing, and the creative economy, to youth affairs and sports," Andreas noted. "Interns from UKM will gain practical experience across these divisions to see firsthand how tourism policies are formulated and executed on the ground."


He added that Bukittinggi offers a compelling case study by combining Minangkabau natural landscapes, historic national monuments, and a culturally driven economy. Fresh perspectives from Malaysian students are expected to enhance the city's tourism narrative across ASEAN markets.

Reciprocal Impact

The international outreach effort is led by senior academic officials from UIN Bukittinggi, including Head of the Research and Community Service Institute (LPPM) Muhiddinur Kamal, Vice Dean for Academic Affairs at the Faculty of Islamic Economics and Business (FEBI) Era Sonita, and Head of the International Affairs Centre Irwandi.

Irwandi stressed that academic diplomacy must deliver tangible benefits for both the institution and the host city. "This collaboration with UKM Malaysia is not merely a student exchange; it is a concrete demonstration of how universities can bridge local potential with the global stage," Irwandi said. "By placing students directly within the municipal agency, they can study culture-based tourism management while strengthening bilateral ties at the grassroots level."

The Tourism Village of Lake Diateh, Alahan Panjang, Solok Regency, West Sumatera

Highlighting the principle of mutual benefit, Muhiddinur Kamal noted that while UKM students gain empirical work experience in one of West Sumatra's primary tourist destinations, the Bukittinggi municipal administration gains academic insights and broader international promotional reach.

Through this alignment between academia and municipal governance, Bukittinggi is positioning itself as a "living laboratory" for tourism management, the creative economy, and Malay cultural studies in Southeast Asia. (IO Media)

Juli 29, 2026

UIN Bukittinggi Trains Interns and Involves Malaysian Students to Boost Islamic Tourism Skills

UIN Bukittinggi Trains Interns and Involves Malaysian Students to Boost Islamic Tourism Skills

BUKITTINGGI, INDONESIA — Indonesia’s burgeoning halal tourism sector is riding a wave of rising domestic and international demand for Muslim-friendly travel. Yet, industry observers note that its rapid expansion remains constrained by a fundamental hurdle: a critical shortage of skilled talent proficient in both modern hospitality management and Islamic regulatory frameworks.

Surau Tuo Taram: Historic Witness to West Sumatra’s Oldest Islamic Civilization in Taram Village.

To bridge this widening gap, the Sharia Tourism Programme at the Faculty of Islamic Economics and Business/Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam  (FEBI), UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi (State Islamic University of Bukittinggi), rolled out a targeted internship coaching workshop from Tuesday to Friday (28–29/7/2026). The initiative aims to fast-track workforce readiness by equipping students with essential competencies in halal service standards, destination governance, and sharia-compliant certifications.

Dewi Manda, Head of the Sharia Tourism Study Programme at UIN Bukittinggi, stressed that the initiative aims to dismantle the misconception of sharia tourism as a mere promotional buzzword. Noting on the sidelines of the event, she emphasized that it is a comprehensive service ecosystem requiring high professional standards to successfully drive the market both locally and internationally.

 Tourism Training. Tourism Practitioner Faizal Basri Outlines Tourism 6.0 Paradigm.

Adding regional weight to the workshop, six undergraduate students from the Faculty of Social Sciences and Humanities at Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) crossed the strait to participate alongside their Indonesian peers. Their presence signals deepening academic and professional collaboration across South-east Asia as they engage in interactive dialogues focused on sustainable tourism models and cultural heritage.

Dr. Aidil Alfin, Dean of FEBI UIN Bukittinggi, championed this integrative curriculum. He emphasized that internships must transcend basic academic requirements to serve as a channel for substantive, career-defining learning that precisely matches current industry needs.

Delivering a technical keynote during the sessions, Tourpreneur tourism expert Faisal Zulfi, argued that marrying sustainable tourism principles with the emerging Tourism 6.0 paradigm is an absolute necessity. He explained that this shifts the industry focus away from past eras centered on product acquisition, sightseeing, and digital sharing toward a framework centered on what to live.

Halal  Food and Tourism: Sanjai chips are an authentic, halal Minangkabau snack from Bukittinggi.

Mr. Faisal remarked that today's industry focus no longer chases visitor numbers alone. Instead, it drives sustainability that delivers a tangible impact on the environment, society, and local economies by prioritizing authentic values that blend seamlessly with daily community life.

Complementing this macroscopic view on tourism trends, industry expert Witra Neldi unpacked the micro-foundations of hospitality and accommodation. He asserted that modern lodgings are no longer mere resting stops, but rather the beating heart of a traveler's journey.

 Halal hospitality standards. Tourism industry expert Witra Neldi explains halal tourism hospitality.

According to Mr. Neldi, this success relies on three core pillars: uncompromising halal hospitality standards ensuring hygiene and family privacy, emotional personalization requiring cultural empathy and warmth beyond rigid standard operating procedures, and sustainable operations integrating eco-friendly practices and local workforce integration into daily management.

Interns: Tourism internship participants receive orientation and training.

Through initiatives fusing rigorous regulatory training, international academic exchange, and next-generation sustainability models, UIN Bukittinggi continues to position itself as a vital talent pipeline for Indonesia’s ambitious sharia tourism economy. [IRWANDI]

Juli 28, 2026

UIN Bukittinggi Scholar to Study German Dual-Education System and TVET Management at TU Dresden

UIN Bukittinggi Scholar to Study German Dual-Education System and TVET Management at TU Dresden

BUKITTINGGI, Indonesia – A graduate student from the Postgraduate School of UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi has been selected to participate in a prestigious national academic mobility scheme aimed at advancing vocational education and training (TVET) management and educational technology in Germany.

TU Dresden Campus, Germany

Elmeki Satria, a master’s student in Islamic Education Management at the Postgraduate School of UIN Bukittinggi, secured a spot in the Indonesian International Lecturer Study Mobility (DIKMEN) 2026: Overseas Internship Program for Vocational Secondary School (SMK) Teachers.

The three-month fully funded initiative is part of Indonesia's national strategic drive to revitalize vocational education and adopt best practices from Germany’s world-renowned dual education system. Funded by the Indonesian Endowment Fund for Education (LPDP) under the Ministry of Finance, the programme is jointly organised by the Ministry of Primary and Secondary Education’s Directorate General of Secondary and Special Education alongside the TU Dresden Institute for Further and Continuous Education (TUD FaCE) in Dresden, Germany.

Highly Competitive National Cohort

Nationally, the fellowship is highly competitive, selecting only 34 outstanding educators and academic practitioners from across Indonesia for the 2026 cohort. Scheduled from Aug 24 to Nov 20, 2026, the intensive course aims to equip participants with global leadership capabilities to reform vocational governance back home.

During their study visit at TU Dresden, participants will delve into strategic areas including TVET instructional design and methodology, human resource development, educational technology integration, knowledge transfer from theory to practice, and on-site study of German industrial management and research facilities.

Praise from University  

The achievement has drawn strong commendation from the leadership of the Postgraduate School of UIN Bukittinggi. Professor Nunu Burhanuddin, Director of Postgraduate Studies at UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, expressed immense pride in Mr Elmeki’s selection into the national delegation.

Academic Milestone. Frorm left:Postgraduate Administration Head Elvi Sukhairi, Postgraduate Director Prof Nunu Burhanuddin, Elmeki Satria, and Postgraduate Deputy Director Prof Hesi Eka Puteri. 

"We warmly welcome and extend our highest appreciation for Mr Elmeki Satria’s selection into this national study mobility programme at TU Dresden," Prof Nunu said. "Our student's inclusion among a select national cohort of 34 participants underscores the global competitiveness and academic rigor of UIN Bukittinggi's postgraduate scholars."

Prof Nunu emphasized that exposure to Germany’s advanced TVET framework and technological infrastructure will enrich the academic scope of Islamic Education Management in Indonesia. Insights gained into institutional governance, industry alignment, and modern instructional design can be adapted to elevate Islamic educational institutions nationwide, he added.

The Postgraduate Building at UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi in West Sumatra. The facility serves as a center for master's and doctoral studies as well as advanced academic research.

"This milestone is not only a personal triumph for Mr Elmeki, but also a catalyst for the internationalisation of our Postgraduate School," Prof Nunu noted. "We trust that the insights and best practices acquired in Germany will be translated into his master’s research and broader educational leadership endeavours."

Through such high-level global engagements, the Postgraduate School of UIN Bukittinggi continues to demonstrate its commitment to contributing to national educational reform while harmonising Islamic scholarly traditions with contemporary global education management. (IO Media Team)

Juli 26, 2026

UIN Bukittinggi and UKM Cross-Border Internships: A Critical Catalyst for Cultivating Globally Competitive Graduates in Southeast Asia

UIN Bukittinggi and UKM Cross-Border Internships: A Critical Catalyst for Cultivating Globally Competitive Graduates in Southeast Asia

BUKITTINGGI, INDONESIA — In an era defined by hyper-competition and rapid economic integration, international internships have transitioned from a conventional academic elective into an indispensable imperative for higher education. This paradigm is vividly embodied in the strategic reciprocal internship scheme recently forged between Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi and Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

International Internship: UKM Students Undertake Tourism Internship at UIN Bukittinggi.

Designed to address the urgent demand for globally minded talent, the cross-border initiative bridges rigorous academic theory with real-world industry practice, focusing specifically on the burgeoning sector of sustainable and Sharia tourism.

The collaborative framework commenced with the deployment of six students from UIN Bukittinggi’s Faculty of Islamic Economics and Business / Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) to UKM from June 18 to July 13, 2026. Fulfilling the principle of true reciprocity, the exchange continues from July 27 to September 21, 2026, welcoming six students from UKM’s Faculty of Social Sciences and Humanities/Fakultas Sains Sosial dan Kemanusiaan (FSSK) to UIN Bukittinggi’s Sharia Tourism Study Program and prominent regional industry partners.

UIN Bukittinggi Rector Prof. Silfia Hanani emphasized that overseas internships are crucial building blocks for equipping undergraduates with cross-cultural dexterity and professional resilience—competencies that cannot be fully acquired within the confines of a traditional classroom.

"International internships are no longer merely a mechanism to accumulate credit hours; they are a calculated strategy to accelerate university internationalization and instill a global mindset," Prof. Silfia stated on Saturday (26/7/2026). "This cross-border exposure allows students to test academic hypotheses in practical arenas while cultivating intercultural sensitivity. Such experiences form the vital foundation our graduates need to command high employability and serve as cultural diplomacy bridges."

Elevating Competencies Through Sharia Tourism Ecosystems

The strategic focus on tourism is intricately aligned with the geo-strategic and cultural advantages of West Sumatra's Minangkabau region. Dr. Aidil Alfin, Dean of FEBI UIN Bukittinggi, noted that the placement of UKM students is meticulously curated to deliver a holistic operational view—spanning destination governance, Muslim-friendly industry analytics, and direct engagement with local micro-economies.

Internship Orientation. UKM students receive tourism internship orientation at UIN Bukittinggi. 

"We project our interns to dissect industry dynamics firsthand. Within our program and partner networks, UKM students examine halal tourism concepts and witness how local wisdom integrates into high-value economic models," Dr. Aidil explained.

Echoing this sentiment, Assoc. Prof. Dr. Azima Abdul Manaf, Internship Advisor at FSSK UKM, underscored that structured transnational mobility pushes undergraduates out of their comfort zones, fostering professional linguistic proficiency, regional regulatory literacy, and international networks at an early career stage.

Article Writing Guidance. UIN Bukittinggi students received mentorship for reputable international journal publication during UKM internship.

"This partnership facilitates the absorption of best practices in Indonesian tourism management, enriching sociocultural research and reinforcing the Malay heritage bond within the realm of regional creative economy development," Dr. Azima remarked.

As higher education institutions navigate an increasingly interconnected world, the UIN Bukittinggi-UKM reciprocal model highlights an urgent truth: experiential cross-border learning is the definitive cornerstone for molding adaptive, world-ready leaders for tomorrow's global economy. [IRWANDI]




UIN Bukittinggi dan UKM Gulirkan Skema Magang Timbal Balik

UIN Bukittinggi dan UKM Gulirkan Skema Magang Timbal Balik

BUKITTINGGI — Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi bersama Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) memperkokoh jejaring akademik kawasan Asia Tenggara melalui skema pemagangan internasional timbal balik (reciprocal internship). Inisiatif yang berfokus pada penguatan sektor pariwisata berkelanjutan ini menjadi pijakan strategis dalam merajut integrasi ilmu pengetahuan, adaptasi budaya, serta pengalaman industri lintas negara.

   Magang Internasional. Penyambutan mahasiswa Fakultas Sains Sosial UKM di UIN Bukittinggi.                                   
Kolaborasi ini diawali dengan pengiriman enam mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Bukittinggi ke Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang berlangsung pada 18 Juni hingga 13 Juli 2026. Sebagai wujud komitmen resiprokal, panggung pembelajaran global tersebut berlanjut pada 27 Juli hingga 21 September 2026. Sebanyak enam mahasiswa dari Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan (FSSK) UKM menjalani program magang di Program Studi Pariwisata Syariah FEBI UIN Bukittinggi serta sejumlah mitra strategis industri setempat.

Magang Mahasiswa FEBI. Mahasiswa FEBI UIN Bukittinggi saat melakukan magang di UKM.

Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Prof. Silfia Hanani menegaskan bahwa program pemagangan internasional lintas batas ini bukan sekadar pemenuhan beban akademis, melainkan langkah terukur dalam membangun internasionalisasi perguruan tinggi dan membekali mahasiswa dengan wawasan global (global mindset).

"Melalui pemagangan internasional ini, mahasiswa tidak hanya menguji teori akademis di medan practical, tetapi juga mengasah kepekaan interkultural dan etika profesional dalam lanskap global. Pengalaman lintas negara ini menjadi fondasi penting agar lulusan kita memiliki daya saing tinggi sekaligus mampu menjadi jembatan diplomasi kebudayaan," ujar Prof. Silfia, Senin (27/7/2026).

Prof. Dr. Silfia Hanani, Rektor UIN Bukittinggi

Integrasi Ekosistem Pariwisata Syariah

Fokus pemagangan yang menitikberatkan pada sektor kepariwisataan dinilai sangat relevan dengan keunggulan geo-strategis dan kultural Minangkabau. Dekan FEBI UIN Bukittinggi Dr. Aidil Alfin menjelaskan bahwa kehadiran mahasiswa FSSK UKM di Bukittinggi dirancang untuk memberikan pengalaman holistik, mulai dari tata kelola destinasi, analisis industri ramah muslim, hingga interaksi langsung dengan ekosistem bisnis lokal.

"Kami memproyeksikan para peserta magang dapat membedah dinamika pariwisata secara riil. Di Program Studi Pariwisata Syariah dan jaringan mitra strategis kami, mahasiswa UKM tidak hanya mempelajari konsep halal tourism, tetapi juga melihat bagaimana nilai-nilai lokal dan kearifan kultural diintegrasikan ke dalam industri bernilai ekonomi tinggi," tutur Aidil.

Dekan FEBI, Dr. Aidil Alfin

Langkah ini menyatukan keahlian metodologis-analitis dari FSSK UKM dengan praktik lapangan pariwisata berbasis syariah yang dikembangkan FEBI UIN Bukittinggi.

Memperkuat Internalisasi Kompetensi

Dari pihak Malaysia, Dosen Pengarah FSSK Universiti Kebangsaan Malaysia Prof.Madya Dr. Azima  Abdul Manaf menyambut baik sinergi terstruktur yang terbangun antara kedua lembaga. Menurutnya, pemagangan internasional timbal balik ini memberikan dimensi pembelajaran yang lengkap, baik dari aspek penguasaan bahasa profesional, pemahaman regulasi kawasan, hingga pembentukan jaringan kerja global sejak dini.

"Program ini memfasilitasi mahasiswa kami untuk keluar dari zona nyaman dan menyerap pengalaman praktis (best practices) pengelolaan kepariwisataan di Indonesia. Pertukaran pengetahuan ini memperkaya khazanah riset sosiokultural serta memperkuat ikatan rumpun Melayu dalam konteks pengembangan ekonomi kreatif kawasan," kata Azima.

Melalui program yang berlangsung hingga akhir September mendatang, kedua institusi optimistis kolaborasi ini dapat terus berkelanjutan. Lebih dari sekadar pertukaran pelajar, skema pemagangan ini diarahkan menjadi model kemitraan strategis dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang siap memimpin di panggung internasional.(IRWANDI 





Juli 18, 2026

USIM and UIN Bukittinggi Renew Partnership on Academic Collaboration

USIM and UIN Bukittinggi Renew Partnership on Academic Collaboration

NILAI, Malaysia – Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) and Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi in West Sumatra have renewed their Memorandum of Understanding (MoU), reaffirming a mutual commitment to deepening cooperation in higher education, research and human capital development.

    Dean of Faculty of Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, Prof. Dr. Syafwan Rozi( second from right),          and Vice-Chancellor  of  USIM, Prof. Dato' Ts. Dr. Sharifudin Md Shaarani (third from right)  after        signing  the partnership agreement in Malaysia. 

The agreement was signed at the meeting room of Vice-Chancellor of USIM on July 14, reviving a partnership that expired in 2022 and laying the groundwork for broader academic synergy between the two Islamic institutions.


   Signing the MoU on behalf of USIM was Vice-Chancellor Prof. Dato' Ts. Dr. Sharifudin Md Shaarani,  while UIN Bukittinggi was represented by the Dean of Faculty of  Ushuluddin, Adab and Dakwah,  Prof. Dr. Syafwan Rozi.


The renewed agreement covers student and academic staff mobility, researcher and administrative exchanges, joint academic programs, collaborative research and innovation, scholarly publications, and the sharing of academic resources.

Moving forward, the two universities plan to expand cooperation through joint research projects, co-authored publications and professional development initiatives aimed at strengthening the capacity of their academic communities. Sharifudin said the renewed MoU represented more than a mere extension of a previous agreement. 

"This MoU is not merely a document. It marks the beginning of a strategic partnership that we hope will translate into meaningful collaboration in academic programs, research and human capital development between USIM and UIN Bukittinggi," he said.

Separately, UIN Bukittinggi Rector Prof. Silfia Hanani expressed appreciation to USIM for its continued commitment to strengthening ties between the two universities. Silfia said the renewed agreement should pave the way for tangible programs that benefit both institutions, particularly in education, research, community engagement and academic capacity-building.

  Prof. Dr. Silfia Hanani (Rector of UIN Bukittinggi)

She added that sustained collaboration would enhance the international standing of both universities while contributing to stronger regional cooperation in Islamic higher education. [IRWANDI]


Juli 15, 2026

Eco-Theology Takes Centre Stage in Islamic Outreach : YADIM and UIN Bukittinggi Forge Cross-Border Partnership

Eco-Theology Takes Centre Stage in Islamic Outreach : YADIM and UIN Bukittinggi Forge Cross-Border Partnership

PUTRAJAYA, MALAYSIA – As climate change and environmental degradation intensify, Islamic outreach should embrace a broader perspective that addresses not only humanity's relationship with God but also its responsibility towards the natural world, representatives from Yayasan Dakwah Islam Malaysia (YADIM) /Malaysia's Islamic Propagation Foundation  and University Islam Negeri (UIN) Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi ( Sjech M. Djamil Djambek State Islamic University of Bukittinggi) said during a meeting on Monday (July 14). The discussion reflects growing regional interest in faith-based responses to environmental challenges. 

Choked waterways: Plastic waste floating in a river, highlighting the growing threat of pollution to freshwater ecosystem. (Photo: Beritaagar)

Both institutions agreed that environmental stewardship is not merely a development agenda but an integral part of Islam's religious mission. Through the lens of eco-theology, nature is regarded as a trust from Allah that must be protected, while humanity bears the responsibility, as khalifah (stewards), to preserve the balance of His creation.

The UIN Bukittinggi delegation was led by Prof. Dr. Syafwan Rozi, Dean of the Faculty of Ushuluddin, Adab and Da'wah, accompanied by Dr. Zulfan Taufik, Vice-Dean for Academic Affairs, and two academic staffs  Muhammad Fajri, M.Sos., and Abdul Gaffar, M.Sos. 

The delegation was received by YADIM Chief Executive Officer Ustadz Zamri Zainal Abidin and members of the foundation's senior management. Beyond exploring institutional cooperation, the meeting served as a platform to exchange views on integrating environmental conservation into Islamic outreach, education and research.

Cross Border Partnership: Delegates from UIN Bukittinggi and leaders of YADIM during a discussion.

During  the discussions, both sides agreed that public awareness of environmental stewardship through Islamic outreach should be strengthened. They said greater emphasis is needed to help communities recognise that caring for the Earth is a religious obligation. Ecological awareness, they added, should be rooted in the theological understanding that all of creation constitutes signs of God and must be safeguarded rather than exploited without restraint.

Prof. Dr. Syafwan Rozi (Dean of Faculty of Ushuluddin, Adab, and Dakwah) 

As a follow-up, YADIM and UIN Bukittinggi discussed several collaborative initiatives, including plans to sign a Memorandum of Understanding (MoU). The proposed partnership will focus on strengthening Islamic outreach, research, community development and scholarly studies on eco-theology in response to contemporary challenges.

Through closer cooperation between a religious outreach institution and a university, both organisations hope to launch joint initiatives ranging from research projects and academic seminars to community engagement programmes and public education campaigns aimed at fostering a culture of sustainable living grounded in Islamic values.

A gift for environment. Delegates from UIN Bukittinggi presenting cassava crackers as a token of appreciation to YADIM leaders, symbolizing local food security and environmental conservation.

The cross-border collaboration is expected to mark an important step towards strengthening an approach to Islamic outreach that is responsive to both humanitarian and environmental challenges. As ecological pressures become increasingly complex, eco-theology is seen as offering a framework that not only encourages a closer relationship with God but also inspires a shared commitment to protecting the Earth as a common home. The initiative is also consistent with UIN Bukittinggi's broader efforts to advance eco-theological scholarship and international academic collaboration. [IRWANDI]

Juli 06, 2026

 Merawat Keberagaman dari Ruang Kelas: Gagasan Dr. Muhiddinur Kamal di Forum Internasional NICE 2026, Thailand

Merawat Keberagaman dari Ruang Kelas: Gagasan Dr. Muhiddinur Kamal di Forum Internasional NICE 2026, Thailand

YALA, THAILAND — Dunia kian terhubung, tetapi pada saat yang sama juga semakin mudah terbelah oleh identitas. Perbedaan agama, etnis, bahasa, dan budaya yang semestinya menjadi kekayaan acap kali berubah menjadi sumber pertentangan. Di tengah situasi itu, Indonesia menawarkan pengalaman yang berbeda. Dengan lebih dari 280 juta penduduk, sekitar 1.340 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, dan enam agama yang hidup berdampingan, bangsa ini membuktikan bahwa kemajemukan dapat dirawat menjadi modal sosial melalui pendidikan.

Ilustrasi Pulau Kaya Keberagaman. Sumber: https://waqafilnusantara.com

Gagasan itu mengemuka dalam The 7th National and International Conference on Education and Islamic Education (NICE 2026) di Yala Rajabhat University, Thailand, Jumat (3/7/2026). Pada forum akademik internasional tersebut, Dr. H. Muhiddinur Kamal, dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, memperkenalkan pengalaman Indonesia membangun pendidikan multikultural berbasis nilai-nilai Islam Nusantara sebagai model pengelolaan masyarakat majemuk.

"Pendidikan multikultural bukan sekadar mengajarkan peserta didik mengenal perbedaan. Ia membentuk kemampuan hidup bersama secara adil, damai, dan saling menghormati. Di situlah moderasi beragama menemukan ruang praksisnya," ujar Muhiddinur Kamal.


Dr. H. Muhiddinur Kamal

Bagi Muhiddinur, pendidikan multikultural di Indonesia tidak lahir dari ruang teori. Ia tumbuh dari pengalaman sejarah yang panjang. Sejak abad ke-7 hingga ke-8, Islam menyebar di Nusantara melalui perdagangan, dialog, dan perjumpaan budaya yang dibangun para saudagar dari Gujarat, Malabar, dan Jazirah Arab. Pendekatan damai itu kemudian diteruskan para Wali Songo yang menjadikan tradisi lokal sebagai medium dakwah sehingga Islam diterima masyarakat tanpa harus menghapus identitas budaya yang telah hidup sebelumnya.

Tradisi tersebut tetap bertahan ketika Indonesia memasuki masa kolonial. Pesantren, surau, dan madrasah berkembang menjadi ruang pembelajaran sekaligus benteng kebudayaan. Di lembaga-lembaga itu, nilai toleransi, musyawarah, dan penghormatan terhadap perbedaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari perjalanan sejarah itulah lahir watak Islam Nusantara yang akrab dengan moderasi.

Menurut Muhiddinur, warisan sejarah tersebut perlu diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan masa kini. Pendidikan multikultural tidak cukup berhenti pada pengenalan terhadap keragaman, melainkan harus membentuk ruang publik yang melahirkan harmoni, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Dalam kerangka itulah moderasi beragama menjadi fondasi yang menaungi seluruh proses pendidikan.

Di atas fondasi tersebut bertumpu nilai-nilai universal seperti kesetaraan warga negara, kebebasan sipil, integrasi sosial, dan penghapusan diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Bersamaan dengan itu, pendidikan Islam tetap menjalankan tujuan utamanya, yakni membentuk akhlak mulia, memperkuat ukhuwah, dan membangun budaya musyawarah yang menghargai tradisi lokal.

Konsep itu, menurut Muhiddinur, hanya akan bermakna apabila hadir dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya di sejumlah pesantren, nilai-nilai multikultural justru tumbuh melalui pengalaman hidup bersama, bukan sekadar melalui ceramah di ruang kelas.

Salah satu contohnya terlihat di Pesantren MAS Tarbiyah Islamiyah Batang Kabung, Padang. Di pesantren tersebut, seni tradisional dimanfaatkan sebagai media pembelajaran moderasi. Santri dari berbagai latar belakang budaya dipertemukan dalam aktivitas kesenian sehingga belajar mengenal, menghargai, dan bekerja sama melalui pengalaman yang nyata. Nilai-nilai multikultural pun terintegrasi ke dalam kurikulum, kegiatan budaya, hingga kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren.



Pesantren MAS Tarbiyah Islamiyah Batang Kabung, Padang.

Dari berbagai temuan lapangan itu, Muhiddinur merumuskan empat pola yang secara konsisten membentuk sikap moderat. Pertama, kurikulum hibrida yang memadukan ajaran Islam dengan kearifan budaya lokal sehingga peserta didik memahami agama tanpa tercerabut dari realitas sosialnya. Kedua, lingkungan inklusif yang membiasakan interaksi lintas etnis, daerah, dan latar belakang sosial. Ketiga, kesetaraan dalam interaksi, yakni membangun relasi yang bebas dari hierarki mayoritas dan minoritas. Keempat, evaluasi adaptif, yaitu penilaian yang tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga perkembangan karakter, empati, dan perilaku keberagamaan.

Dari sana, Muhiddinur menawarkan sebuah gagasan yang lebih luas, yakni membangun ekosistem pembelajaran multikultural. Menurutnya, pendidikan Islam tidak perlu memilih antara mempertahankan tradisi atau mengikuti modernitas. Keduanya justru dapat dipadukan menjadi satu sistem yang saling menguatkan.

Ekosistem tersebut bertumpu pada tiga lapisan pembelajaran. Lapisan pertama ialah sistem halaqah, tradisi khas pesantren yang menekankan kajian kitab, hafalan, diskusi, dan transmisi sanad keilmuan sebagai fondasi pembentukan karakter dan kedalaman intelektual. Lapisan kedua adalah konteks regional, yakni kemampuan menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakter masyarakat Asia Tenggara yang sama-sama multikultural, seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand Selatan. Sementara lapisan ketiga ialah sistem klasikal, berupa pendidikan modern yang terstruktur melalui jenjang pendidikan, kurikulum, asesmen, dan tata kelola kelembagaan.

Ketiga lapisan itu, menurut Muhiddinur, bukanlah sistem yang saling menggantikan. Tradisi halaqah menjaga kedalaman nilai dan transmisi keilmuan, sistem klasikal memastikan mutu pembelajaran berjalan secara terukur, sedangkan perspektif regional menjadikan pendidikan tetap kontekstual terhadap masyarakat yang majemuk. Melalui perpaduan itulah moderasi beragama tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjadi budaya belajar yang hadir dalam kurikulum, metode pembelajaran, kehidupan asrama, hingga relasi sehari-hari antara guru dan peserta didik.

Di tengah menguatnya polarisasi sosial di berbagai negara, pengalaman Indonesia menawarkan pelajaran bahwa agama dan budaya tidak harus dipertentangkan. Islam Nusantara justru menunjukkan keduanya dapat berjalan beriringan untuk melahirkan masyarakat yang inklusif, damai, dan berkeadaban. Pendidikan menjadi ruang paling strategis untuk memastikan nilai-nilai tersebut terus hidup di tengah perubahan zaman.

Implementasi Kerjasama Akademik

Kehadiran Muhiddinur Kamal pada Konferensi Internasional yang dihelat Yala Rajabhat University sekaligus menjadi implementasi awal Letter of Intent (LoI) antara UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dan Yala Rajabhat University yang ditandatangani pada Pertemuan Tahunan Asosiasi Universitas Islam Asia, 24 Juni 2026 di UIN Syarif Hidyatullah Jakarta. Kerja sama itu membuka peluang kolaborasi dalam riset, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara.


Kerja Sama Akademik
. Wakil Rektor Urusan Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi, Dr. Edi Rosman (dua dari kiri) dan Dekan Fakultas Pendidikan Yala Rajabhat University, Thailand, Dr. Muhammadtolan Keama (dua dari kanan) usai menandatangani LoI pada Pertemuan Tahunan Asosiasi Universitas Islam Asia (AUIA), Rabu, 24 Juni 2026, di Jakarta. Penandatanganan LoI ini disaksikan Kepala Pusat International Office UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi (kiri), dan utusan resmi AIUA, Prof. Dr. Syukree Lamputeh (kanan). 

Dari Yala, sebuah pesan kembali diperdengarkan kepada dunia. Bahwa di tengah menguatnya sekat-sekat identitas, pendidikan tidak cukup melahirkan manusia yang cerdas. Pendidikan harus membentuk manusia yang mampu hidup bersama dalam perbedaan. Sebab, sebagaimana ditunjukkan pengalaman Indonesia, keberagaman bukan persoalan yang harus diselesaikan, melainkan kekuatan yang harus terus dirawat sebagai fondasi peradaban.[IRWANDI]