Jembatan Nusantara-Mekong: Misi UIN Bukittinggi untuk Muslim Kamboja
BUKITTINGGI – Hubungan antara kawasan Nusantara dan wilayah beradab di sepanjang Sungai Mekong bukanlah sebuah relasi baru yang instan. Jauh sebelum batas-batas geopolitik modern terbentuk, pelaut dan diaspora Muslim Cham telah merajut jejaring maritim, perdagangan, hingga teologi yang kuat dengan kepulauan Nusantara. Semangat historis inilah yang kini dihidupkan kembali dalam ruang akademik modern.
Dalam paparannya, Math Alphy menegaskan bahwa kolaborasi strategis dengan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) di Indonesia, khususnya UIN Bukittinggi, merupakan langkah kontekstual untuk mengembalikan ikatan kultural dan intelektual yang sempat renggang oleh zaman.
Nostalgia Maritim dan Jejak "Penjawian
Menengok ke belakang, jelas Math Alphy, catatan sejarah dari abad ke-13 hingga ke-17 menunjukkan betapa aktifnya pelaut Muslim Cham dalam sistem perdagangan di Selat Malaka. "Ketika terjadi pergolakan di Vietnam Tengah, gelombang diaspora Cham bergerak ke berbagai wilayah Nusantara, meninggalkan jejak antropologis yang kuat, seperti kantong-kantong pemukiman di Kelantan, Malaysia, " ungkapnya.
"Kesamaan nilai tradisi dan akar teologi inilah yang menjadi daya tarik luar biasa bagi generasi muda kami," ujar Math Alphy di hadapan sivitas akademika UIN Bukittinggi.
Potensi Besar di Tengah Tantangan Minoritas
Alphy menjelaskan, berdasarkan data proyeksi demografi pertengahan tahun 2026, populasi Kamboja diperkirakan menyentuh angka 18.051.219 jiwa. Di tengah mayoritas masyarakat pemeluk Buddha (93–95 persen), komunitas Muslim Cham bergerak sebagai minoritas yang dinamis dengan porsi 4–5 persen dari total populasi. Sebagian besar dari mereka mendiami wilayah subur dan strategis di cekungan Sungai Mekong.
Meski berstatus minoritas, integrasi politik umat Islam Kamboja terbilang luar biasa. Mereka terlibat aktif dalam struktur tata kelola negara multi-level, mulai dari kursi Senat, Parlemen, hingga menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris Negara dan Direktur di berbagai kementerian. Di tingkat akar rumput, harmoni kepemimpinan formal bersanding manis dengan bimbingan spiritual para imam masjid.
Di sektor pendidikan, geliatnya pun tak kalah impresif. Kamboja saat ini memiliki 635 institusi pendidikan Islam yang menaungi sekitar 71.010 siswa serta didukung oleh hampir empat ribu tenaga pendidik. Kendati demikian, tantangan besar muncul ketika mereka ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di sinilah Indonesia hadir sebagai episentrum solusi.
UIN Bukittinggi sebagai Magnet Akademik
Mengapa mahasiswa Kamboja memilih Indonesia, khususnya UIN di Sumatra Barat? Math Alphy menguraikan tiga faktor pilar utama (catalyst factors):
(1) Sinergi Budaya: Lingkungan kampus Islam di Indonesia menawarkan ruang yang akrab, mengubah beban psikologis dari perasaan "minoritas yang terisolasi" di negeri sendiri menjadi bagian dari persaudaraan Muslim Nusantara yang besar.
(2) Relevansi Pedagogis: Pendekatan akademik di Indonesia dinilai lebih humanis dan moderat, berbeda dengan kekakuan model institusi di Timur Tengah yang terkadang kurang selaras dengan kebutuhan sosiologis Muslim Asia Tenggara.
(3) Aksesibilitas Praktis: Keterjangkauan biaya operasional pendidikan serta kedekatan geografis menjadikan Indonesia sebagai pilihan paling rasional bagi para pemburu beasiswa dari daratan Mekong.
Cetak Biru Moderasi untuk ASEAN
Kemitraan yang diresmikan lewat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Majelis Tertinggi Umat Islam Kamboja dan UIN Bukittinggi ini mencakup program formalisasi jalur akademik, riset kolaboratif digitalisasi kurikulum, serta modernisasi pendidikan yang memadukan nilai spiritual dengan kecakapan vokasional.
Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, berharap kolaborasi ini mampu melahirkan investasi intelektual jangka panjang. Kamboja, dengan model koeksistensi damai antara Muslim dan Buddha (dual-faith system), bersama Indonesia yang kaya akan nilai Pancasila dan Moderasi Beragama, dapat menjadi duet percontohan bagi stabilitas kawasan.Melalui jembatan akademik ini, masa depan pluralisme ASEAN tidak lagi sekadar jargon diplomatik di atas kertas, melainkan sebuah realitas yang dirawat dari ruang-ruang kelas perguruan tinggi. Kesadaran sejarah masa lalu kini telah menjelma menjadi energi kemajuan bersama. (Irwandi Nashir).
Tags : International Networking News
IO UIN Bukittinggi
Thank You
for taking the time to visit our website.
- IO UIN Bukittinggi
- International Office of UIN Bukittinggi
- io@uinbukittinggi.ac.id
Posting Komentar