Menyemai Diri di Koh Mee: Saat Jendela Johari Menyapa Santri Thailand
Menyemai Diri di Koh Mee: Saat Jendela Johari Menyapa Santri Thailand
HAT YAI- Dentang bel di kompleks Songserm Sasana Vitaya School (SSVS), Distrik Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand Selatan, menandai berakhirnya jam pelajaran pada Jumat (31/7/2026) sore. Namun, di salah satu sudut ruang pertemuan sekolah yang populer dengan sebutan Pondok Koh Mee tersebut, suasana haru justru baru bertunas.
Secara hibrida—menghubungkan ruang fisik di Kanchana Ramet Road dengan layar-layar virtual di Indonesia—acara pelepasan berlangsung ringkas dan bersahaja. Sembilan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi resmi berpamitan. Momen ini sekaligus memungkas rangkaian Praktik Lapangan Kependidikan (PLK) antarbangsa yang mereka lalui selama beberapa pekan terakhir.
Di balik kesederhanaan seremoni sore itu, terekam jejak panjang tentang bagaimana gagasan keilmuan dibawakan secara membumi. Delegasi dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) ini memadukan tiga keahlian disiplin ilmu: Bimbingan dan Konseling (BK), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), serta Pendidikan Bahasa Inggris (PBI).
Kolaborasi lintas disiplin tersebut diikuti oleh Rafli Dwilianto, Selva Octaria, dan Oti Aprillia dari program studi BK; Miftahul Azizah dari prodi PBA; serta Restu Rahmadani, Hot Naomi Hikma Yuni, Zafara Khairun Nisa, Halimatussaddiah, dan Meilien Surya Angraini dari prodi PBI.Dalam lanskap pendidikan Thailand, jenjang sekolah menengah Mattayum (setara SMP dan SMA) umumnya berada dalam satu kawasan terpadu dengan jenjang dasar Pratom (SD). Mengakomodasi struktur ini, mahasiswa PBI mengambil peran mengajar murid-murid di tingkat Pratom hingga Mattayum. Sementara itu, mahasiswa PBA memfokuskan pendampingan pada penguatan literasi dan tata bahasa Arab para santri Mattayum."Karena di sekolah tidak ada unit BK, kami harus menyesuaikan diri dengan sistem yang ada agar kehadiran kami tetap relevan dan menyentuh hati para siswa di sini,"jela Rafli Dwilianto, Mahasiswa BK UIN Bukittinggi
Meretas Canggung di Sekolah Tanpa BK
Sentuhan pembeda hadir lewat intervensi psikologis bagi siswa Mattayum 5 dan 6—jenjang kelas 11 dan 12 yang tengah berada di persimpangan jalan menentukan masa depan. Berhadapan dengan kenyataan bahwa sistem sekolah setempat belum memiliki kelembagaan BK formal, para mahasiswa berinisiatif merancang interaksi psikologi kelas yang interaktif.
"Karena di sekolah tidak ada unit BK, kami harus menyesuaikan diri dengan sistem yang ada agar kehadiran kami tetap relevan dan menyentuh hati para siswa di sini," ujar Rafli Dwilianto, menceritakan siasat mereka menyusupkan ruang dengar psikologis di sela-sela kepadatan jadwal pelajaran formal.
Soft Diplomacy Pendidikan
Langkah diplomasi lunak (soft diplomacy) berorientasi pendidikan ini memantik perhatian dari jajaran pimpinan perguruan tinggi. Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, menyampaikan apresiasi langsung kepada Ustadz Razak, pimpinan Foundation of SSVS.
Prof. Silfia menegaskan bahwa kiprah mahasiswa di mancanegara memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar pemenuhan beban SKS akademik. "Pengalaman mengajar di SSVS bukan sekadar beban akademik, melainkan diplomasi kemanusiaan. Mahasiswa kami tak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menyemai nilai Islam rahmatan lil 'alamin yang inklusif," tuturnya.Seremoni perpisahan di Hat Yai sore itu mungkin telah usai seiring padamnya layar koneksi hibrida. Namun, jembatan rasa, benih kepercayaan diri, dan jalinan persaudaraan yang disemai para mahasiswa Indonesia di tanah Thailand Selatan dipastikan akan terus tumbuh menembus batas-batas teritorial. (Dr. Irwandi, Kepala Pusat Kantor Hubungan Internasional UIN Bukittinggi).
Tags : Activity Event International Networking News
Dr. Irwandi
Thank You
for taking the time to visit our website.
- Dr. Irwandi
- International Office of UIN Bukittinggi
- io@uinbukittinggi.ac.id