Juli 30, 2026

NICMCR Annual Meeting 2026 di UIN Bukittinggi: Kesadaran Pemeluk Agama Kembali Merawat Bumi

Tidak semua pertemuan berakhir ketika ruang sidang ditutup. Ada yang justru menemukan maknanya setelah para peserta kembali ke negaranya masing-masing, ketika catatan presentasi berubah menjadi renungan, dan ketika diskusi yang semula terdengar akademis perlahan menjelma menjadi panggilan moral. Begitulah jejak yang ditinggalkan Workshop dan Annual Meeting Netherlands–Indonesia Consortium for Muslim–Christian Relations (NICMCR) 2026 di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Sumatera Barat, pada awal Juni lalu (3-4 Juni 2026). Kini, ketika kalender telah bergeser ke penghujung Juli, yang tertinggal bukan lagi agenda sidang ataupun seremoni pembukaan, melainkan sebuah pertanyaan yang semakin mendesak: mampukah para pemeluk agama kembali menjadi penjaga bumi di tengah dunia yang terus berubah?


Pertanyaan itu terasa kian relevan ketika krisis ekologis tidak lagi sekadar menjadi bahan diskusi ilmiah. Perubahan iklim, bencana alam, hilangnya ruang hijau, hingga menurunnya kualitas lingkungan telah menjadi pengalaman yang dirasakan masyarakat di berbagai belahan dunia. Pada saat yang sama, polarisasi sosial dan menguatnya politik identitas sering kali memperlebar jarak antarmanusia. Padahal, bumi tidak pernah membedakan siapa yang tinggal di atasnya. Ketika banjir datang, ketika tanah bergerak, atau ketika hutan kehilangan keseimbangannya, semua manusia menghadapi kenyataan yang sama. Di titik inilah agama dipanggil untuk menghadirkan kembali nilai-nilai kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.

Dr. Frans Dokman, pengarah NICMCR

Kesadaran itulah yang menjadi benang merah pertemuan para akademisi Muslim dan Kristen dari Indonesia serta Belanda dalam forum NICMCR 2026. Mengusung tema Living in a Changing World: Religion, Ecology, and Responsibility, forum ini menghadirkan ruang dialog yang melampaui batas-batas teologis. Percakapan tidak berhenti pada pencarian titik temu antariman, melainkan berkembang menjadi refleksi mengenai bagaimana agama dapat berkontribusi dalam menjawab tantangan ekologis dan kemanusiaan. Penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat dipandang sebagai jalan bersama untuk menerjemahkan nilai-nilai keagamaan ke dalam tindakan yang nyata.

Prof. Dr. Silfia Hanani, Rektor UIN Bukittinggi

Bukittinggi menjadi lebih dari sekadar kota penyelenggara. Di tengah masyarakat Minangkabau yang memegang teguh falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, para peserta menemukan contoh bagaimana agama, budaya, dan kehidupan sosial dapat tumbuh dalam harmoni. Pengalaman Sumatera Barat yang beberapa kali menghadapi bencana alam semakin mempertegas bahwa menjaga hubungan manusia dengan alam bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral. Perspektif global yang dibawa peserta dari Belanda bertemu dengan kearifan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat Minangkabau, melahirkan dialog yang tidak hanya kaya secara akademik, tetapi juga membumi.


Bagi Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, forum ini menjadi pengingat bahwa dialog lintas iman tidak boleh berhenti sebagai agenda akademik tahunan. Menurutnya, percakapan antarumat beragama perlu terus dirawat dan diterjemahkan ke dalam kerja sama yang nyata untuk menjaga bumi sebagai tanggung jawab bersama seluruh umat manusia. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman bukanlah sekadar fakta sosial yang harus diterima, melainkan modal moral untuk membangun solidaritas dalam menghadapi berbagai tantangan global.


Forum ini menjadi salah satu wujud nyata diplomasi akademik universitas.Penyelenggaraan NICMCR 2026 dipandang sebagai bagian dari komitmen UIN Bukittinggi dalam memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi. Internasionalisasi, dalam perspektif tersebut, tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi diwujudkan melalui kolaborasi riset, pertukaran akademik, publikasi ilmiah, dan jejaring yang terus berkembang.


Apresiasi terhadap penyelenggaraan forum juga datang dari Dr. Frans Dokman, pengarah NICMCR. Ia menilai pertemuan di UIN Bukittinggi memperlihatkan kuatnya komitmen seluruh mitra dalam menjaga keberlanjutan konsorsium. Lebih jauh, ia mendorong para akademisi untuk semakin serius mengembangkan kajian mengenai dekolonisasi metodologi penelitian. Menurutnya, tantangan global membutuhkan pendekatan ilmiah yang tidak hanya bertumpu pada perspektif yang dominan, tetapi juga memberi ruang yang setara bagi pengalaman masyarakat lokal, tradisi keagamaan, dan pengetahuan yang lahir dari konteks budaya masing-masing.

 
Barangkali, warisan terpenting dari NICMCR 2026 bukanlah bertambahnya daftar kerja sama internasional ataupun lahirnya agenda penelitian bersama. Yang jauh lebih penting ialah tumbuhnya kesadaran bahwa agama masih memiliki energi moral untuk menyatukan manusia dalam menghadapi persoalan bersama. Ketika para pemeluk agama memilih berdialog, belajar satu sama lain, dan bekerja bersama menjaga lingkungan, mereka sedang menghidupkan kembali makna iman sebagai kekuatan yang merawat kehidupan. 


Dari Bukittinggi, sebuah pesan sederhana terus bergema: masa depan bumi tidak hanya bergantung pada kemajuan ilmu pengetahuan atau kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kesediaan para pemeluk agama menjadikan kepedulian terhadap sesama dan alam sebagai bagian dari laku iman sehari-hari.[IRWANDI]

Tags :

Dr. Irwandi

Thank You

for taking the time to visit our website.

  • Dr. Irwandi
  • International Office of UIN Bukittinggi
  • io@uinbukittinggi.ac.id

Posting Komentar