Agustus 09, 2026

Navigasi Etis GenAI, UIN Bukittinggi Gandeng Kampus Malaysia Ciptakan "Kompas" Baru Pembelajaran

BANGI— Gelombang pesat teknologi kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence/GenAI), seperti ChatGPT dan Claude, telah menerobos barikade tradisi akademik di berbagai perguruan tinggi Asia Tenggara. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan efisiensi tanpa batas dalam penelusuran referensi dan penyusunan draf tulisan. Namun di sisi lain, lanskap pendidikan tinggi berbasis keislaman kini menghadapi paradoks etis dan pedagogis.


Fenomena ini mengemuka dalam rangkaian studi lapangan bertajuk Navigating AI Usage in Southeast Asian English Education for Islamic Scholars yang berlangsung pada Rabu hingga Sabtu (4–8/8/2026). Di ruang-ruang kelas Academic Writing, mahasiswa tingkat akhir bergerak melompat sangat cepat mengadopsi perangkat digital tersebut. Sementara itu, para pendidik berjuang keras menavigasi batas antara asistensi digital dan degradasi integritas ilmiah.

Kesenjangan adaptasi teknologi inilah yang memicu riset lintas negara pimpinan Dr. Veni Roza. Bersama tim penelitinya, ia memetakan dinamika tersebut sekaligus merumuskan solusi komprehensif di sejumlah perguruan tinggi Islam terkemuka di Malaysia.

Komitmen dari Selangor

Pengumpulan data lapangan diawali dengan lawatan resmi ke Universiti Islam Selangor (UIS) di Bangi, Selangor. Kedatangan tim peneliti internasional tersebut disambut hangat oleh Dekan Fakulti Pendidikan UIS, Dr. Sapie.



Dalam sambutannya, Sapie menegaskan komitmen penuh pihak dekanat UIS untuk memfasilitasi seluruh kebutuhan data riset. Ia menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antarlembaga pendidikan Islam rumpun Melayu untuk merumuskan koridor pedagogis yang responsif terhadap perubahan zaman tanpa mengorbankan nilai moral keislaman.

Tim riset segera menggelar wawancara mendalam dengan jajaran pengajar Fakulti Pendidikan UIS, seperti Suziana dan Shila—dosen pengampu rumpun mata kuliah Bahasa Inggris dan Komunikasi pada program diploma maupun sarjana. Dari dialog tersebut, terungkap keprihatinan mendalam para dosen terkait cara merespons masifnya penggunaan GenAI oleh mahasiswa.

Khususnya pada mata kuliah penulisan akademik (Academic Writing) bagi mahasiswa semester tujuh yang sedang mempersiapkan skripsi, infiltrasi perangkat AI telah mengubah lanskap asesmen secara dramatis.


"Mahasiswa bergerak jauh lebih lincah dan adaptif dalam memanfaatkan AI. Sementara para dosen mulai merasa kewalahan karena belum adanya sistem pendampingan dan pelatihan resmi adaptasi kecerdasan buatan."

 Inovasi Asesmen dan Panduan Buku

“Para pengajar mulai merasa kewalahan. Kendala utamanya adalah belum adanya pelatihan resmi dan kurikulum adopsi AI dari otoritas kampus. Di sisi lain, mahasiswa cenderung jauh lebih cepat dan adaptif mengeksplorasi alat-alat baru tersebut,” ujar salah satu anggota tim peneliti Dr. Veni Roza.

Sebagai langkah respons awal di lapangan, tim riset memperkenalkan dan menguji coba penggunaan perangkat lunak pemantau kecerdasan buatan (AI checking tool) kepada para dosen UIS. Pelatihan singkat ini ditujukan agar dosen memiliki instrumen objektif dalam mendeteksi derajat fabrikasi atau jejak sintetik pada karya tulis mahasiswa.


Fitur teknis dan panduan operasional alat pemantau AI ini nantinya distrukturkan secara sistematis ke dalam produk akhir riset: sebuah buku panduan (handbook) penggunaan AI bagi mahasiswa dan dosen di lingkungan Lembaga Pendidikan Tinggi Islam (Islamic Higher Education Institutions/IHEI).

Dinamika Diskusi di USIM

Melanjutkan agenda pengumpulan data, tim riset meneruskan lawatan ilmiah ke Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) di Nilai, Negeri Sembilan. Kampus perguruan tinggi publik bersimbol kepala harimau ini menjadi lokus kedua dalam membedah fenomena serupa pada skala universitas negeri.

Di USIM, kegiatan difokuskan pada sesi diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) yang berlangsung interaktif bersama akademisi bahasa Inggris, di antaranya Syakira, Ummi, dan Fatin. Diskusi ini memperkaya temuan mengenai tantangan pengajaran bahasa di tingkat universitas publik berlatar keagamaan yang kuat.


FGD di USIM mempertegas bahwa tantangan GenAI bukan lagi sekadar isu kecurangan akademik (plagiarisme), melainkan transformasi mendasar pada epistemologi pembelajaran bahasa. Pendidik tidak hanya dituntut menjadi penguji otentisitas karya, tetapi juga navigator etis yang membimbing mahasiswa memanfaatkan AI secara kritis, analitis, dan bertanggung jawab.

Melalui riset lintas batas ini, handbook yang dihasilkan diharapkan mampu menjadi kompas baru bagi institusi pendidikan tinggi Islam di Asia Tenggara dalam menyelaraskan kemajuan teknologi kecerdasan buatan dengan tradisi keilmuan yang berintegritas. (IO Media Center)

Tags :

Dr. Irwandi

Thank You

for taking the time to visit our website.

  • Dr. Irwandi
  • International Office of UIN Bukittinggi
  • io@uinbukittinggi.ac.id

Posting Komentar