Menunggu Sawah Kita Menyewa Nyawa
Menunggu Sawah Kita Menyewa Nyawa
Dr. Irwandi (Dosen UIN Bukittinggi)
Ada pemandangan yang terasa kontras sekaligus menggugah nurani di pedesaan Korea Selatan hari ini. Di balik gemerlap kemajuan teknologi dan megahnya kota-kota utama Negeri Ginseng, wilayah pedesaan mereka perlahan menua dan kehilangan keriuhan. Lahan-lahan pertanian yang membentang luas tak lagi riuh oleh langkah para pemuda setempat. Krisis demografi dan pergeseran minat generasi muda membuat desa-desa di sana kian lengang.
| Sawah Bertingkat. Sumber: https://id.pngtree.com/freebackground |
Fenomena menarik inilah yang diangkat oleh akademisi Seoul National University, Prof. Jiwon Suh, dalam gelaran Konferensi Internasional ke-6 tentang Islam, Hukum, dan Masyarakat (ICIS) yang terintegrasi dengan Annual International Conference on Education and Islamic Studies (AICEIS) ke-5 di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Kamis (6/8/2026). Dalam pemaparannya bertajuk Migrant Agricultural Workers as Transformative Agents: Implications for South Korea and Beyond, Prof. Suh mengajak kita melihat realitas baru di sektor agraris Asia Timur.
| Prof Jiwon Suh |
Secara historis, masyarakat Asia Timur sangat menghormati nilai Konfusianisme Nong-ja-cheon-ha-ji-dae-bon—filosofi yang menempatkan pertanian dan para pengolah tanah sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa. Namun, dinamika zaman telah menggeser pilar tersebut. Petani lokal usia produktif semakin langka, dan peran vital penopang pangan kini berpindah ke tangan para pekerja migran.
Prof. Suh menyoroti bahwa pekerja migran pertanian tidak sepatutnya lagi dipandang sebatas pengisi sektor 3D (dirty, dangerous, difficult). Lebih dari itu, mereka telah berkembang menjadi transformative agents—sosok-sosok yang secara nyata membentuk lanskap sosial, ekonomi, hingga ekologi pedesaan di negara tujuan.
Sayangnya, kontribusi besar ini kerap luput dari catatan sejarah maupun perhatian publik. Ada semacam "buta sejarah dan ekologi" yang membuat keberadaan serta perjuangan para pekerja migran ini belum sepenuhnya mendapat tempat yang sepadan dalam diskursus pembangunan global.
Pelajaran Berharga untuk Indonesia
Gagasan yang disampaikan Prof. Suh dalam forum ilmiah di Padang tersebut sejatinya menjadi bahan refleksi yang sangat berharga bagi Indonesia. Meskipun saat ini bangsa kita tengah menikmati periode bonus demografi, tanda-tanda tantangan di sektor pertanian domestik sudah mulai terlihat di depan mata.
Fenomena melambatnya regenerasi petani serta cenderung meningkatnya migrasi tenaga kerja muda terdidik dari pedesaan ke sektor non-pertanian di perkotaan adalah kenyataan yang membutuhkan perhatian bersama. Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang adaptif dan komprehensif, Indonesia berpotensi menghadapi krisis tenaga kerja di sektor pangan pada masa mendatang.
Tentu menjadi sebuah keprihatinan mendalam apabila negara dengan potensi agraris yang sedemikian besar kelak harus menghadapi kelangkaan tenaga pengolah tanahnya sendiri, hanya karena kita terlambat membangun ekosistem pertanian yang menarik dan menjamin kesejahteraan generasi muda.
Panggilan Moral, Etika, dan Keberlanjutan
Dari sudut pandang hukum dan etika Islam yang turut menjadi fokus pembahasan dalam forum AICEIS, upaya pelindungan terhadap hak-hak dasar serta martabat kemanusiaan para pekerja—baik pekerja migran Indonesia di luar negeri maupun para petani dan buruh tani di dalam negeri—merupakan nilai yang sangat mendasar.
Memastikan keselamatan, keadilan, dan kesejahteraan bagi para pejuang pangan adalah bagian utuh dari penegakan keadilan sosial dan upaya menjaga keberlanjutan kehidupan.Sebagai bagian dari civitas akademika dan elemen bangsa, kita diajak untuk melihat persoalan ini secara lebih luas dan bijak:
1. Penguatan Pelindungan Pekerja Migran: Negara dan masyarakat perlu terus mendorong hadirnya sistem pelindungan yang lebih kokoh bagi para pekerja migran kita di luar negeri, memastikan mereka mendapatkan pengakuan dan hak-hak yang adil atas kontribusi besarnya.
2. Modernisasi dan Transformasi Pertanian Domestik: Perlu dorongan kolektif untuk merawat dan memodernisasi sektor pertanian di dalam negeri. Sektor agraris harus mampu ditransformasikan menjadi bidang kerja yang inovatif, ramah teknologi, serta memberikan kepastian ekonomi yang layak bagi para pemuda di desa.
Studi yang dipaparkan oleh Prof. Jiwon Suh memberikan cermin jernih bagi kita semua. Pengalaman Korea Selatan mengajarkan bahwa kedaulatan pangan sebuah bangsa sangat bergantung pada bagaimana kita menghargai dan merawat para pengolah tanahnya. Sebelum desa-desa kita kehilangan keriuhan dan sawah-sawah kita merindukan penggarapnya, inilah saatnya kita memberikan perhatian penuh bagi keberlanjutan masa depan agraris Indonesia.
| Dr. Irwandi |
Tags : Activity Event International
Dr. Irwandi
Thank You
for taking the time to visit our website.
- Dr. Irwandi
- International Office of UIN Bukittinggi
- io@uinbukittinggi.ac.id
Posting Komentar