Oktober 17, 2026

Menolak Mitos Teknologi dalam Pengajaran Bahasa Inggris

BUKITTINGGI— Penetrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) yang kian masif di ruang-ruang kelas kerap terjebak dalam ilusi efisiensi. Kehadiran aplikasi canggih sering dianggap otomatis meningkatkan mutu pembelajaran. Padahal, kemudahan akses digital dan tingkat keterlibatan siswa tidak serta-merta berbanding lurus dengan peningkatan pemahaman serta kecakapan berbahasa yang nyata.


Pesan krusial tersebut mengemuka dalam gelaran Konferensi Internasional Magister Pendidikan Bahasa Inggris UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi (Annual International Conference of English Education, Linguistics, and Literature), Sabtu (17/10/2026). Diantara yang hadir sebagai pembicara utama, Assoc. Prof. Dr. Sawitri Madoma dari Yala Rajabhat University, Thailand. Sawitri menegaskan pentingnya mendefinisikan ulang peran teknologi dalam pembelajaran bahasa Inggris.

"Teknologi adalah peluang, bukan pedagogi," ujar Sawitri saat memaparkan materi bertajuk Rethinking English Language Teaching in the Digital Era: Beyond Technology Towards Meaningful Learning.

Kekeliruan Perencanaan

Menurut Sawitri, kekeliruan umum pendidik saat ini adalah memulai perencanaan mengajar dari pertanyaan berbasis alat: aplikasi atau platform AI apa yang akan digunakan? Pendekatan yang terlalu berfokus pada alat semacam ini dinilai kerap mengabaikan realitas keragaman di dalam kelas.


Assoc. Prof. Dr. Sawitri Madoma 

Ia menekankan bahwa pembelajaran bahasa Inggris yang bermakna (meaningful learning) harus berpijak pada empat tahapan perencanaan yang responsif terhadap konteks. Tahapan tersebut dimulai dari mengenali karakteristik pembelajar (know the learners), merumuskan tujuan capaian (clarify outcomes), merancang interaksi pedagogis (design pedagogy), hingga akhirnya memilih instrumen teknologi yang tepat (select technology).  

"Teknologi harus melayani tujuan pembelajaran, bukan mendikte tujuannya," tegas Sawitri Madoma. Kontekstualisasi ini mencakup pemahaman mendalam terhadap bahasa ibu siswa, tradisi budaya lokal, pengetahuan awal, serta tingkat aksesibilitas perangkat digital yang dimiliki.

Pemberdayaan Pendidik 

Integrasi tiga elemen kunci—yakni pembelajar, praktik pedagogis, dan teknologi digital—menjadi kerangka kerja konseptual untuk melahirkan proses belajar yang aktif, kolaboratif, konstruktif, serta berorientasi pada tujuan.

Penguatan kapasitas guru dalam mengartikulasi pertimbangan profesional (professional judgment) menjadi kunci mutlak. Guru dituntut tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan perancang pengalaman belajar yang mampu menyelaraskan (align) antara indikator pencapaian, aktivitas aktif, dan evaluasi pembelajaran.

"Pembelajaran yang bermakna dimulai dari pembelajar, dibentuk oleh guru, dan diperkaya oleh teknologi," pungkas Sawitri. (IRWANDI)

Tags :

Dr. Irwandi

Thank You

for taking the time to visit our website.

  • Dr. Irwandi
  • International Office of UIN Bukittinggi
  • io@uinbukittinggi.ac.id

Posting Komentar